Merindukanmu
Kemarin
pas ngopy film I Give My First Love To
You, Eva tanya, kepada siapa kuberikan cinta pertamaku. Aku jadi teringat
tentangmu. Bagaimana kabarmu sekarang? aku harap, kamu tak menemukan gadis
menyebalkan selain aku. Gadis yang selalu menangis di saat tak bersamamu.
Kadang,
aku sangat membenci cinta pertama. Kenapa cinta pertama itu harus ada? Dan
kenapa cinta pertamaku mengenaskan? Aku tak pernah mengungkapkan perasaanku
padamu karena terlalu gengsi. Kita bersahabat sejak kecil. Kamu selalu
menjagaku. Keluargamu menyayangiku. Tapi aku tak tahu apa yang terjadi selepas
masa sekolah dasar. Kamu menjauh dari kehidupanku. Secara mendadak. Keluargamu
serasa asing bagiku. Terlampau jauh jarak di antara kita. Bukan jarak
Semarang-Jakarta tapi K-I-T-A.
Kamu
masih ingat waktu SD? Kamu tak pernah mempunyai teman bermain selain kita
bertiga. Setiap pulang sekolah kamu selalu datang untuk bermain. Main kasti,
petak umpet, maling-polisi, sudamanda, dan permainan lainnya yang sudah kulupa
namanya. Kamu masih ingat, aku selalu menangis saat tidak sekelompok denganmu
dalam permainan apapun. Dan dengan sabar kamu menjelaskan kepada mereka agar
aku sekelompok denganmu. Hei, bolehkah aku merindukanmu? Aku merindukanmu,
sangat.
Jika
aku boleh meminta, aku ingin sekali kembali mengobrol denganmu. Aku ingin tahu
apa yang ada di pikiranmu tentangku. Apa aku gadis bodoh? Aku harap kamu
mengubah persepsimu. Karena aku sudah belajar keras untuk dibilang pintar
olehmu. Kamu masih ingat, kita sering bersaing mendapatkan nilai yang bagus.
Atau kita selalu mengadakan permainan untuk menunjukkan siapa yang paling
hebat. Aku selalu benci saat kakakku membandingkanku denganmu. Apalagi, waktu
lomba pertama yang kuikuti. Lomba cerdas cermat di kecamatan. Mbaksis bilang,
kamu saja tidak bisa menang apalagi aku. Dan itu selalu mempengaruhi mindset-ku setiap kali lomba. Tapi sejak
tak lagi bersamamu aku bertekad untuk menjadi lebih baik darimu. Aku
membuktikannya. Aku bisa jadi juara di beberapa lomba yang kuikuti. Dan aku
yakin kamu tidak mengikutinya karena itu perlombaan siswa SMK.
Andai,
kamu tahu. Aku belajar keras untuk itu semua. Untuk kamu. Untuk tidak dibilang
gadis bodoh olehmu. Hei, aku ingin bilang. Nilaiku tidak buruk lagi. Aku
beanr-benar belajar. Tidak ada lagi angka lima di ujian akhirku saat SMP atau
SMK. Apa kamu tidak mau memberiku selamat? Seperti dulu, saat nilai UN SD-ku
yang kamu beritahu sebelum pengumuman berlangsung.
Apakah
aku belajar keras sia-sia? Apa kamu tahu, aku selalu berharap bisa satu sekolah
denganmu. Selepas SD, aku berharap kita akan bersepeda bersama menuju sekolah.
Tapi kenyataannya tak pernah terjadi. Kamu memutuskan untuk melanjutkan sekolah
di kota. Aku tidak berani sekolah di kota. Aku belajar keras, agar bisa
mengikuti lomba. Sekali saja, aku ingin bertemu di sekolahmu. Saat lomba
matematika. Tapi kamu tidak pernah ada.
Aku
heran, kenapa kamu selalu sekolah di tempat yang tak pernah bisa aku raih? SMA
favorit di Pati, pilihanmu. Aku pun berharap bisa sekolah di situ. Tapi tidak
jadi. Kamu tahu, aku berjuang keras dari awal pendaftaran. Di hari terakhir
pendaftaran aku baru menghubungi wali kelasku. Sudah jam pulang sekolah. Aku
bersepeda ke sekolah. Sempat dimarahi kepala sekolah karena hampir terlambat
mendaftar. Sialnya, kenapa tahap pertama harus sesi wawancara? Kamu tahu yang
membuatku ngedrop? Wawancara wali murid yang menanyakan tentang sumbangan
swadaya. Ah, tidak ada yang datang kala itu.
Kamu
tahu apa yang membuatku menyesal? Kemarin, kangdi bilang, kalau dari dulu
pengen jadi guru matematika, kenapa aku tak bilang? Kenapa justru aku masuk SMK
jurusan akuntansi? Kangdi memang selalu memanjakanku. Memang benar katamu, aku
memang gadis bodoh. Apa jadinya ya, jika aku sekolah bersamamu? Akankah cinta
pertamaku indah seperti novel-novel yang sering kubaca? Apakah aku bisa ikut
OSN seperti teman-temanku? Tidak, tidak, tidak. aku tidak boleh menyesal.
Tenang saja, aku bahagia dengan apa yang terjadi padaku.
Kalau
dipikir-pikir lucu ya. Kamu anak IPA tapi malah masuk akuntansi. Dan aku? anak
akuntansi tapi masuk FMIPA. Terbalik. Kenapa kita tidak bisa bersaing seperti
dulu? Apa kamu tidak merindukanku? Apa kamu tak mau lagi menenangkanku saat aku
menangis?
Huh,
sudah sangat lama waku berputar. Terlalu banyak hal yang kulewati tanpamu.
Sekarang usiaku sudah sembilan belas tahun dan kita tak pernah bermain bersama
sejak aku sebelas tahun. Delapan tahun. Bukan waktu yang singkat. Tapi kenapa
aku masih merasa bahwa baru kemarin kita bermain bersama.
Untuk
saat ini, aku tak mau memikirkanmu. Karena hanya membuatku menyesal tak pernah
menyapamu. Lucu, kita hanya bertemu setahun sekali. Selalu ucapan maaf yang
terucap. Bisakah kita bertemu di kesempatan lain?
Sekali
lagi, aku ingin mengatakan, aku merindukanmu, sangat. Terimakasih telah menjadi
seseorang yang membuatku ingin terus bersaing. Tenang saja, aku akan berjuang
keras untuk lebih hebat darimu. Dan saat kita bertemu kembali, beranikah aku
menyapamu? Atau lagi-lagi aku hanya buang muka saat kamu tersenyum padaku? Ah,
aku benci diriku.
Comments
Post a Comment