Posts

Showing posts with the label cerpen

Kakao untuk Kayla

Mata Dyko tertancap pada gadis berkuncir ekor kuda. Segera, Dyko melepas handuk lalu memakai seragam putih abu-abu. Tangannya meraih jel dan merapikan rambut keriwilnya yang hampir menyentuh telinga. Dyko kembali berkaca, merapikan kerah dan ujung seragam. Dyko baru keluar kamar setelah menyemprotkan parfum. Langkah Dyko berhenti di dapur. Tak sempat sarapan, sudah pukul enam empat puluh. Dyko hanya mengambil kunci motor di atas kulkas. Senyum simpul terukir di wajahnya. Gadis di terasnya pasti akan tercengang. “Dyko!” Kayla kembali berteriak, “lama banget sih!” Dyko tak mengindahkan teriakan Kayla. Malah asyik mengelap motor barunya. “Dyko!” Alis Kayla terangkat melihat Dyko keluar tanpa sepeda gunung yang biasa mereka gunakan. Sudah berganti Ninja merah keluaran terbaru. “Keren kan, Kay?” pamer Dyko dengan senyum sok ganteng. Menampakkan lesung pipit di wajahnya. Kayla berkacak pinggang lalu pergi meninggalkan rumah Dyko. Dyko hanya menggaruk kepala...

Yang Terpendam

Sepasang mata itu tampak berbeda dari yang lain. Tidak berbinar seperti semua orang di kapal Bahari Express. “Lagi ada masalah?” ujarku membuka percakapan. Dia tak menjawab. Wajahnya kusut. Seolah tak pernah bahagia. Hei, apa yang kurang dalam hidupnya? Usahanya di bidang kuliner sedang bagus-bagusnya dan memiliki pacar yang sempurna. “Tidak ada,” ujarnya datar lalu berjalan menuju geladak utama. Rambut sepinggangnya menari-nari disapa bayu. Dia memejamkan mata lalu merentangkan kedua tangannya. “Apa kau bertengkar dengan Bara?” Lagi-lagi dia memilih bungkam. Aku   memilih berdiri di sampingnya, yang tanpa sadar meraih tubuhnya dan merengkuhnya dalam pelukku. “Luapkan saja,” ujarku saat menangkap genangan di sudut matanya. *** “Apa angin bisa menerbangkan luka?” tanyaku setelah bendungan di mataku pecah. Lagi-lagi aku menangis di pundaknya. “Aku belum tahu,” ujar lelaki di sampingku. Dia melepaskan pelukannya lalu memegang pundakku dan menatapku, dalam. “Tapi...

Katakan Cinta

Ini adalah cerpen ketiga yang saya kirim untuk mengikuti #KampusFiksi. Setelah dua kali gagal pada pendaftaran #KampusFiksi1 dan #KampusFiksi5, akhirnya dengan cerpen ini saya bisa mengikuti #KampusFiksi10. Selamat membaca, kamu :) :) :) “Jangan pergi dengannya!” “Kenapa?” “Karena aku mencintaimu.” *** Pandangan Luna tak pernah lepas dari pria berwajah tampan dan bertubuh atletis yang sedang menendang bola di lapangan. Lagi-lagi ia hanya berani memerhatikan Aldo dari bangku depan kelasnya. Tanpa menegur. Tanpa menyapa. Tanpa senyum. Hanya melihatnya cukup membuat Luna bahagia. “Hayo lo?” sebuah tangan menepuk bahu Luna. Luna menoleh dan mendapati seorang gadis berambut sebahu tengah tersenyum jahil kepadanya. “Apa?” “Lo lagi merhatiin si Aldo ya?”   “Nggak,” Luna menyanggah, “Siapa coba yang merhatiin dia.” “Semua murid juga tahu kalau lo sering merhatiin Aldo,” Tere memerhatikan Luna dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Wajahnya ...