Finally, I get it!



Menjadi salah satu bagian dari #kampusfiksi, hal terindah di penghujung akhir tahun 2014. Kenangan manis. Berkumpul dengan para manusia dengan minat yang sama. Mereka memiliki gagasan-gagasan yang luar biasa. Tak kusangka, aku, Lina Purwati, seorang penulis yang masih ditolak media bisa pergi ke Jogja. Sendirian. Dengan tekad kuat untuk menjadi seorang penulis.

aku yang biasanya merasakan kehadiran mereka di dunia maya, kini berada di sekitarku. Aku bisa melihat mereka berdiskusi secara langsung. Hal-hal yang sangat menyenangkan kala semua penulis sedang berkumpul. Hanya ada cerita yang diselingi dengan canda tawa. Betapa bahagianya hidup seperti ini.

Memang benar kata Pak Edi. Persahabatan adalah harta paling berharga yang ada di dunia. Dengan sahabat, kita bisa melakukan apa saja ( jadi kangen Eva dan Silvi L ). Dan pak Edi berhasil membangun persahabatan yang luar biasa. Mulai dari kampus fiksi pertama hingga kesepuluh ini. Entah sudah berapa ratus penulis muda lahir berkat campur tangannya. Saya sangat berterimakasih atas kesempatan ini.

Untuk sampai di sini, tentu bukan perkara mudah. Aku sudah mendaftarkan diri tiga kali. Dua kali gagal. Waktu itu awal tahun 2012. Kampus fiksi angkatan pertama. Dengan kepercayaan diri, kukirimkan sebuah cerpen yang kala itu mendapat pujian baik dari salah satu fanspage matematika yang menggelar lomba. Tapi apa hasilnya? Gagal. Cerpen kedua kukirimkan. Masih gagal. Padahal aku sudah menyelipkan kejutan dan twist ending.

Aku tak menyerah. Kukirim lagi cerpen ketiga. Tentu bukan perkara gampang. Sebelumnya, aku sudah belajar bagaimana menulis cerpen standard. Memasukkan setiap unsur intrinsik ke dalam cerpen. Selesai. Tak seperti biasa, aku tak langsung mengirimkannya. Kuendapkan beberapa hari. seperti tips dari pak Edi pada saat #kampusfiksi roadshow Semarang 2013. Melakukan self editing dan patuh pada aturan yang diberikan.
Belum kukirim. Masih belum yakin. Beruntung kala itu, aku sudah bergabung di kobimo. Bermodalkan SKSD dengan kak Reyhan—salah satu alumni kampus fiksi—aku meminta tolong untuk membaca cerpenku. Sangat disayangkan, kala itu kak Rey sibuk.
Kukirimkan pada Koko Ferdie. Salah seorang penulis muda yang sangat baik hati dan mau berbagi ilmunya denganku. Dia memberikan kritik dan sarannya. Saat itu juga, kuedit dan kukirimkan.
November 2013. Aku tak berharap lebih jika cerpenku masuk. Sangat standard dengan jalan cerita yang begitu mainstre. Apalagi setelah membaca cerpen Zahra Diyza yang sangat detail dengan suasana dan perasaan tokoh.
Rejeki memang tak pernah tertukar. Namaku tertera sebagai peserta #kampusfiksi 10. Betapa bahagianya aku kala itu.
Tapi sayang, setelah pengumuman itu, aku harus mendahulukan kepentingan dunia nyata. Belajar untuk ujian masuk PTN. Aku tak mau gagal lagi. Dan setahun tak menulis membuatku canggung berhadapan dengan lembar microsoft word.
Dan mulai sekarang, setelah berstatus sebagai mahasiswa di sebuah universitas negeri, aku akan terus menulis. Mencapai mimpi-mimpi yang telah lama tertinggal. Menyusun kemabli puing-puing yang telah berserakan.
Sepulang di Semarang nanti, akan kunikmati proses menulis yang panjang hingga aku menemukan gaya ceritaku sendiri. Hinga terjalin cerita yang kuinginkan dan berharap berguna bagi orang lain.
Selamat menulis, Lina Purwati J J J

Yogyakarta, 29 November 2014

Comments

Popular posts from this blog

Ingatkan Si Pemalas

Let's Be The Best