Langkah Pertama Menjadi Jurnalis Kampus



Langkah Pertama Menjadi Jurnalis Kampus

Pelatihan jurnalistik dasar merupakan kegiatan yang wajib diikui oleh semua mahasiswa yang ingin bergabung dalam UKM BP2M. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 11-12 Oktober 2014 di GSG FIK Universitas Negeri Semarang. Banyak pembicara yang membagikan ilmu dan pengalamannya selama menjadi jurnalis di media masa. Dan kegiatan ini merupakan langkah pertama seorang mahasiswa jika ingin menjadi jurnalis kampus. Berikut adalah materi yang dipaparkan oleh pembicara dalam kegiatan pelatihan jurnalistik dasar dengan tema “Pers Era Timeline”.


1.      Berita dalam media online
Di era modern, arus informasi sangatlah cepat dengan adanya media online. Kita bisa mengetahui berita yang beberapa menit yang lalu terjadi di suatu tempat, dimanapun kita berada. Uniknya, setiap berita yang dibaca di media online sering berganti. Hal itu dikarenakan seorang jurnalis yang bekerja di media online diburu waktu. Alhasil, berita yang ditampilkan di media online tidaklah selalu benar. Misalnya, pada pertandingan sepakbola Indonesia melawan Thailand pada baba pertama 1-0. Langsung saja seorang wartawan menuliskannya pada sebuah berita. Seseorang yang membacanya lalu tidur ketika bangun pagi dan ditanya temannya, betapa kagetnya dia ternyata babak kedua 1-2 yang dimenangkan Thailand. Itulah kelemahan media online.


Mirisnya, kebanyakan masyarakat di Indonesia kerap kali membaca berita di media online dikarenakan akses internet yang semakin murah bahkan gratis. Padahal berita di media online banyak sekali yang jurnalisme sampah yakni apa yang diucapkan oleh narasumber langsung ditulis dan diposkan tanpa ada proses editing terlebih dahulu. Jadilah, masyarakat Indonesia membaca berita yang tidak berkualitas.


Berbeda dengan media cetak. Berita apapun yang ada di surat kabar selalu mempertimbangkan kualitas. Pentingkah untuk diketahui oleh pembaca atau tidak tanpa takut dengan ada atau tidaknya pembaca. Karena media cetak sudah memiliki pelanggan. Sementara media online sama sekali tidak mementingkan kualitas. Yang terpenting, situs media online tersebut banyak dikunjungi oleh user. Dengan banyaknya user inilah yang membuat sponsor untuk memasang iklan. Sponsor tidak peduli dengan isi berita di dalam situs tersebut. Yang terpenting, produk sponsor banyak yang melihat.


Philip Meyer dalam bukunya yang berjudul Saving the vanishing Newspaper:Journalism in The Information Age percaya, di tahun 2040 nanti, koran telah tidak ada lagi. Kelak, masyarakat akan membaca berita melalui internet. Hal itu biasa saja karena dari tahun ke tahun, perkembangan teknologi seringkali menggeser teknologi sebelumnya. Seperti misalnya kentongan yang digantikan telepon seluler. Yang memprihatinkan adalah dimana saat tak ada media cetak dan seluruh masyarakat Indonesia membaca berita melalui internet, akan banyak berita yang dikonsumsi masyarakat adalah sampah. Untuk itulah, kita sebagai mahasiswa yang disebut-sebut agent of change harus bisa membuat berita yang selalu memperhatikan kualitas isi berita.


Selain memaparkan berita di media online, pak Alia A Muhammad juga memberikan banyak tips untuk penulis pemula, yakni:
Menulis membutuhkan objektivitas. Tidak boleh seorang jurnalis menulis berita menggunakan subjektivitas. Dan menulis sendiri tidak akan menjadi hal sulit jika kita mau membaca dan punya daya imajinasi. Untuk mengembangkan kemampuan dalam menulis, kita bisa memulai menulis berita di lingkungan terdekat seperti isu, masalah yang belum terselesaikan, kebijakan rektor, dsb. Selain itu, sebagai penunjang berkelanjutan sebaiknya seorang jurnalis mempunyai blog sebagai sarana untuk mempublikasikan tulisan.


2.      Fotografi Jurnalistik
Pada sesi ini disampaikan oleh Raditya Mahendrayasa. Dalam sesi kedua pada hari pertama, Mas Mahendra memaparkan fotografi jurnalistik. Menurut Mas Mahendra, fotografi sendiri itu adalah gaya hidup semua orang pada masa kini. Mau makan difoto, mau tidur difoto, baju baru difoto, gebetan baru difoto, apapun yang terjadi dalam hidup seseorang tak pernah lepas dari tangkapan lensa kamera.


Fotografi jurnalistik sendiri sangat berbeda dengan fotografi umum. Fotografi umum mengacu pada keindahan. Sementara, fotografi jurnalistik adalah foto yang mengandung human interest, yaitu foto yang mampu membangkitkan jiwa sosial bagi siapapun yang melihat foto tersebut.


3.      Prinsip Dasar Jurnalistik
Prinsip yang sangat mendasar bagi jurnalistik adalah “Wartawan tidak boleh bohong”. Apapun yang dituliskannya dalam sebuah berita haruslah sebuah kebenaran. Yangmana kebenaran itu didapat dari kumpulan fakta-fakta. Seperti misalnya, ada satu berita yang akan ia muat dalam artikel, seorang wartawan tidak boleh langsung menulisnya. Ia harus mencari sumber lain untuk memverifikasi pernyataan tersebut.


Aturan dasar lainnya adalah seorang wartawan boleh menyembunyikan identitas narasumber demi kelanjutan hidup narasumber. Misalnya saja, narasumber tersebut memberikan informasi penting tapi bisa jadi mengancam nyawanya, seorang wartawan wajib menyembunyikan identitas narasumber tersebut. Tetapi jika seorang narasumber meminta wartawan untuk menampilkan nama narasumber, seorang wartawan wajib menyertakan nama sekaligus gelar dan jabatannya.


Dalam menyampaikan berita seorang wartawan tidak boleh menambahkan sesuatu yang tidak ada. Misalnya, sebuah berita kecelakaan. Pasti kurang menarik untuk dibaca bila sang korban hanya lecet-lecet. Nah, disini seorang wartawan harus menahan egonya dan tidak menambahkan sesuatu yang tidak ada dalam beritanya untuk menarik pembaca.


Seorang wartawan juga tidak boleh mengecoh pembaca. Menipu dengan berita yang tidak relevan atau bertentangan.


Materi ketiga diakhiri dengan tips-tips untuk memulai menulis berita dari pemateri, M Achiar M Permana. Kita sebagai penulis pemula, bisa menulis berita-berita yang terjadi di sekitar dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya, apa yang terjadi di embung pada malam hari, konflik-konflik yang terjadi di rektorat, pelantikan rektor, pembukaman aktivis, apapun itu. karena setiap jurnalis pasti memiliki sudut pandang
yang berbeda dari orang lain.


4.      Pada materi keempat, kita diajak berdiskusi mengenai berita-berita yang ada di masyarakat. Dalam hal ini, kita sebagai jurnalis harus bisa netral menyikapi berita tapi bukan berarti tidak boleh berpendapat. Dan materi keempat yang disampaikan oleh Muhammad Rofiuddin, tak banyak yang kucatat karena materinya sudah ada di modul, hehe. Dan beberapa kali, tertidur karena lelah. Yang jelas, dalam materi ini, sebagai jurnalis harus berbuat adil.

5.      Materi kelima sendiri adalah reportase, penyajian berita. Kala itu Saroni Asikin menganalogikan melaporkan berita seperti membuat sop. Dalam sop, hal yang penting hars dimaksukkan adalah air, sayur dan bumbu. Berita juga begitu, hal yang penting harus dimasukkan terlebih dahulu baru pelengkap sebagai penyedap berita.
Dalam penyampaian berita juga membutuhkan teknik. Karena terkadang, apa yang terjadi di lapangan tidak seperti yang kita bayangkan. Untuk mengantisipasti hal-hal itu perlu diakukan persiapan reportase, diantaranya:


1.      Persiapan. Contohnya: Peliputan pelantikan presiden, seorang jurnalis sudah harus ada perkiran apa yang akan terjadi dalam acara itu. Selain perkiraan yang menjuru pada pembuatan pertanyaan, hal lain yang harus dilakukan jurnalis dalam tahap reportase adalah menyiapkan senjata, yakni, pen, kertas, kamera, sound recorder, dan yang terpenting seorang jurnalis harus kepo.

2.      Fokus terhadap apa yang akan diberitakan. Dalam hal ini, seorang jurnalis tidak boleh serakah dalam beritanya.
Dalam acara diskusi, Saroni Asikin juga menyampaikan tips untuk membuat judul yang menarik. Karena apa? Karena hal pertama kali yang dibaca redaktur adalah judul. Jika judul menarik maka redaktur akan melanjutkan membaca. Jika tidak? Tulisan yang sudah susah dibuat jurnalis akan di­delete saat itu juga. Lalu, bagaimana judul yang menarik itu? misalnya dalam straight news, judul yang menarik harus umum dan standar tapi juga menarik. Misalnya, dalam berita konser Gigi yang dilaporkan oleh Saroni Asikin, beliau membuat judul ‘Gila Gigi, Gigi Gila’. Yang terpenting dalam pembuatan judul adalah kekreativitisan seorang jurnalis membuat judul. Dan yang terpenting kekreativitas tidak ada batasnya, tergantung bagaiamna jurnalis itu belajar dan berlatih untuk mengolahnya. Selamat menulis, Kamu J J J

Comments

Popular posts from this blog

Finally, I get it!

Ingatkan Si Pemalas

Let's Be The Best