Ingatkan Si Pemalas
Kenapa kian hari belajar menjadi semakin berat saja?
Sangat berat, malah. Dulu, aku dengan senang hati duduk manis berjam-jam
meringkas puluhan buku. Aku tak masalah dengan itu. tapi sekarang? Rasanya
terlalu berat. Lalu apa bedanya dulu dan sekarang? bukankah sekarang aku
belajar hal yang kusuka? Matematika?
Benar kata Mustain, lulus ujian masuk jauh lebih
mudah dibandingkan menjalani proses kuliah itu. Argh! Aku pusing memikirkannya.
Aku heran, kemana semangatku pergi? aku merasa kehilangan diriku. Serasa monster
bernama Malas mencuri semuanya dariku. Siapapun, tolong kembalikan semangatku!
Setelah dipikir-pikir, aku sekarang kembali menjadi
pecundang. Kekanak-kanakan. Ingin bisa tapi tak pernah mau berusaha. Eh,
tunggu, aku bukannya tak mau berusaha, hanya saja sangat sulit untuk kulakukan.
Wait—kalimat barusan menandakan aku
yang terlalu beralasan. Dasar pecundang!
Apa susahnya belajar? Hanya menuliskan materi
puluhan kali. Mestinya harus mudah, bukan? Iya, mudah. Hanya aku yang
membuatnya menjadi susah. Payah!
Ini sama halnya dengan mendekati seseorang tapi tak
mau bertegur sapa. Bagaimana orang itu bisa suka padaku? Apa aku mengibaratkan
hal yang salah? Sepertinya, iya. Karena sampai saat ini, orang yang kusuka tak
pernah kutemui. Dia ada di kota nun jauh di sana. Skip, beda topik.
Bingung, itu yang kurasa. Seharusnya, mudah kalau
aku memang mau disiplin dan mempermudah diriku. Tapi hei, godaan di luar jauh
lebih banyak. Puluhan novel dari Diva Press baru beberapa yang sudah
kutuntaskan. Bahkan, aku belum membeli Jatuh Cinta adalah Cara terbaik untuk
Bunuh Diri milik mas Bara atau Kuala Kumal milik bang Radit. Oke, aku tergoda.
Tapi, bolehkah seseorang menyimpan godaan itu? sungguh, aku tak kuat jika harus
menahan godaan itu.
Sepertinya, memang benar. Bacaan fiksi lebih menarik
minatku dibandingkan harus membuktikan teorema-teorema yang rumus cepatnya kini
kalian gunakan. Siapa yang peduli dengan rumus mendapatkan determinan ad-bc
yang harus lebih panjang. Dengan aturan matriks segitiga, teorema yang menghubungkannya
elementary row operation, aturan
cramer, matrik dan sistem persamaan linear variabel yang saling berhubungan.
Hei, siapa yang peduli?
Kamu pikir, aku salah jurusan? Tidak. Aku
menyukainya jika saja diriku meluangkan waktu untuk belajar lebih dulu. Aku
mengerti saat dosen menjelaskan. Aku menyukainya. Tapi saat di kos, pikiranku
masih bertaut dengan puluhan novel yang belum kujamah. Argh! Kau benar-benar
penggoda!
Maukah kamu berteriak padaku? Bilang pada si pemalas
ini untuk bangun dan kembali belajar? Rasanya si pemalas ini sudah menghabiskan
sehari penuh dengan puluhan alasan untuk menghindari aljabar elementer 1,
kalkulus 1, dan pengantar probabilitas. Tolong ingatkan dia, seberapa keras dia
berusaha untuk sampai di titik ini.
Oh ya, tolong juga jewer telinganya jika tak mau
belajar. Ingatkan juga, seberapa inginnya si pemalas ini belajar kalkulus kala
dia masih menjejakkan kaki di kelas akuntansi. Satu lagi, pasang foto emaknya
sebagai wallpaper ponselnya agar si
pemalas tahu belajar lebih ringan dibandingkan bekerja. Terakhir, pasang juga
foto-foto teman-temannya agar si pemalas sadar bahwa teman-temannya sedang
belajar.
Comments
Post a Comment