Katakan Cinta
Ini adalah cerpen ketiga yang saya kirim untuk mengikuti #KampusFiksi. Setelah dua kali gagal pada pendaftaran #KampusFiksi1 dan #KampusFiksi5, akhirnya dengan cerpen ini saya bisa mengikuti #KampusFiksi10. Selamat membaca, kamu :) :) :)
“Jangan
pergi dengannya!”
“Kenapa?”
“Karena
aku mencintaimu.”
***
Pandangan
Luna tak pernah lepas dari pria berwajah tampan dan bertubuh atletis yang
sedang menendang bola di lapangan. Lagi-lagi ia hanya berani memerhatikan Aldo
dari bangku depan kelasnya. Tanpa menegur. Tanpa menyapa. Tanpa senyum. Hanya
melihatnya cukup membuat Luna bahagia.
“Hayo
lo?” sebuah tangan menepuk bahu Luna.
Luna
menoleh dan mendapati seorang gadis berambut sebahu tengah tersenyum jahil
kepadanya.
“Apa?”
“Lo
lagi merhatiin si Aldo ya?”
“Nggak,” Luna menyanggah, “Siapa coba yang
merhatiin dia.”
“Semua
murid juga tahu kalau lo sering merhatiin Aldo,”
Tere
memerhatikan Luna dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Wajahnya cokelat sawo
mentah tanpa jerawat. Rambutnya yang hitam sepinggul dikuncir kuda. Poni yang
hampir menutupi mata bulatnya. Hidungnya yang pesek, pipinya yang chubby, bibirnya yang tipis dan tubuhnya
yang pendek kurus.
“Lo
nggak jelek,” gumam Tere pelan.
“Terus
apa hubungannya?”
“Ya
terus kenapa lo nggak berani ngedeketin Aldo?”
Luna
menunduk.
“Paling
nggak lo sapa kek,”
Luna
semakin menunduk. Mana mungkin ia berani menyapa Aldo. Berada di dekatnya saja
membuat suara Luna mendadak hilang.
“Tu
cewek aja,” Tere menunjuk cewek yang sedang berlari mendekati Aldo, “yang baru
kenal Aldo setahun udah berani nyamperin Aldo. Nah elo?”
Luna
menengadah dan memerhatikan dua sejoli yang terlihat akrab di tepi lapangan.
Yasmin memberikan botol minuman ke Aldo lalu mengelap keringat yang membanjiri
wajah Aldo. Terkadang ia iri melihat Yasmin yang dengan gamblang mendekati
Aldo.
“Aldo
aja dingin ke gue, gimana dia bisa suka ke gue?” Luna pasrah.
“Kalau
lo nggak bilang lo juga nggak akan tahu gimana perasaannya.”
***
Suasana
kelas sepi. Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Kursi-kursi
sudah kosong ditinggal penghuninya. Hanya ada Tere dan Luna yang masih betah
tinggal di kelas.
“Bareng
Vian lagi?” tanya Tere di sela-sela menyalin catatan fisika.
Luna
mengangguk pelan, “Heem,”
Tere
meletakkan pulpennya, “Lo itu aneh ya?”
“Aneh
kenapa?”
“Aneh
lah!” suara Tere meninggi, “lo sukanya sama Aldo tapi udah seminggu lo diantar
jemput sama si Vian. Enggak curiga sama si Vian?!”
Luna
bangkit dari kursinya dan menatap Tere sinis, ”Maksud lo apa sih Ter?”
Tere
memasukkan buku dan pulpennya dengan kasar, “Maksud gue nggak mungkin orang
tiba-tiba baik tanpa ada niat tertentu!” ia geram dan meninggalkan Luna yang
masih terpaku.
Luna
meraih tangan Tere, “Tunggu,”
“Apa
lagi?!”
“Gue
enggak pernah bisa nolak kebaikan Vian,”
Tere
menggeleng dan berdecak heran, “Dasar lo enggak mau rugi.” katanya seraya
tertawa kecil.
“Nunggu
jemputan Min,” komentar Tere ketika melihat Yasmin berdiri di depan gerbang.
Yasmin
menyipitkan matanya ke Tere, “Eh nama gue itu Yasmin bukan Min!”
“Ya
elah sama aja kali Min,”
Yasmin
ingin menyumpal mulut tak sopan Tere. Tapi diurungkan niatnya ketika melihat
dua motor berhenti di depan mereka. Supra X 125 yang dikendarai Aldo dan Vian
yang menumpangi ninja merahnya dengan gagah.
“Tunggu
tunggu ini si Vian mau nganterin Yasmin kan? Aldo nganterin Luna?”
“Enak
aja gue dianterin sama Aldo!” Yasmin naik pitam.
Tere
menggeleng beberapa kali, “Ya elah, rumah lo sama rumah Aldo kan nggak searah.
Ntar Aldo malah bolak-balik dan itu pasti boros banget. Sekarang itu bensin
mahal dan polusi pasti bakal naik kadarnya, ”
“Ya
udah Ter gue balik sama Luna juga nggak pa-pa,” Aldo melihat Luna yang sedari
tadi hanya menunduk lalu beralih pada Yasmin yang terlihat tak senang dengan
keputusannya. “Sorry ya Yas,” seketika senyum kaku muncul di wajah Yasmin.
“It’s
okay,” ujar Yasmin lalu naik motor Vian.
“Ayo
Lun naik,” perintah Aldo lembut. Luna lalu beranjak dari posisinya.
“Eh
Lun jangan lupa nanti malam gue jemput,” kata Vian sebelum Aldo menyalakan
mesin motornya.
Aldo
bisa melihat Luna mengangguk dan tersenyum ke arah Vian. Senyum yang sudah lama
tak pernah Aldo lihat. Dan saat Aldo melihatnya terasa seperti ribuan jarum
yang menusuk jantungnya karena senyum itu bukan untuknya.
Sepanjang
perjalanan pulang tak ada sedikitpun suara yang keluar dari Aldo ataupun Luna.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Luna berusaha keras meredam detak
jantungnya. Aldo bingung hendak mulai bicara dari mana. Dan tak terasa Aldo
sudah sampai di depan rumah Luna.
“Makasih,”
Luna tersenyum kikuk.
Aldo
mengangguk dan membalas senyum Luna. Luna lalu berbalik badan dan meninggalkan
Aldo.
“Jangan
pergi dengannya!” teriak Aldo dan meraih lengan Luna.
“Kenapa?”
lidah Luna terkilir. Jika saja waktu bisa berputar ia akan mengangguk dan
tersenyum.
“Karena
aku mencintaimu.” Ucap Aldo lirih. Luna merasa tak mempercayai pendengarannya.
“Jangan
bercanda.” Luna melepaskan tangan Aldo dari lengannya dan beranjak pergi.
Sedetik kemudian ia berbalik badan dan mendapati Aldo tengah memarkirkan motor
di halaman rumahnya.
***
Aldo
berlari dengan cepat menuju gudang sekolah. Ia tak peduli dengan motornya yang
terparkir seadanya. Atau bahkan lecet di sana-sini. Yang ada di pikirannya
hanya Luna.
Sesekali
Aldo mendengar teriakan Luna yang memohon ampun. Ada juga suara Luna yang
meminta tolong. Tapi sedetik kemudian terdengar suara pukulan keras. Aldo bisa
membayangkan gadis yang ia cintai sedang ketakutan saat ini.
“Dasar
cewek sok cantik, lo tahu reputasi gue hancur gara-gara lo!” Aldo bisa
mendengar teriakan Vian memaki Luna. Dan terdengar ledakan tawa dari beberapa
orang.
“Gue
minta maaf tapi gue enggak cinta sama lo,” saat ini Luna hanya bisa merutuk
dirinya sendiri. Plak. Lagi-lagi tangan Vian menampar pipinya. Benar kata Tere.
Tak ada kebaikan tanpa maksud tertentu. Vian mendekati Luna hanya untuk
membuktikan dirinya playboy sejati.
“Drukk,”
Aldo mendobrak pintu gudang. Hatinya sangat perih mendapati wajah Luna lebam
dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Aldo
murka lalu memukul Vian. Bruk. Bruk. Bruk. Tapi sayang Aldo ambruk ketika empat
teman Vian yang tadi hanya menonton kini balas memukulinya. Aldo
bisa merasakan pukulan keras yang dilayangkan lima orang sekaligus di tubuhnya.
“Berhenti!”
Luna berteriak dan berlari melindungi Aldo. Salah seorang teman Vian menendang
Luna. Begitu terus sampai Luna kehabisan tenaga.
“Jangan
sakiti Luna!” eram Aldo tapi tak bisa mengubah keadaan.
“Dasar
pengecut!” Umpat Vian lalu pergi meninggalkan Aldo yang tersungkur di lantai.
Luna
menyeret kakinya mendekat ke Aldo dan membantunya duduk. “Maafin gue karena
buat lo bonyok kayak gini.”
“Dasar
gadis bodoh,” Aldo tersenyum.
“Gue
memang gadis bodoh tapi enggak usah diperjelas gitu kali,” raut wajah Luna
berubah masam. Dan tak lagi peduli dengan Aldo.
“Ya
kamu itu memang bodoh kenapa enggak pernah bisa ngerasa kalau aku cinta sama
kamu,” mendadak rona merah muncul di pipi Luna.
“Hah?”
mulut Luna menganga, “enggak usah bercanda deh, lo aja...”
Mendadak
bibir Aldo telah mendarat di bibir Luna, “Jangan pernah berpikir aku sedang
bercanda. Apa kamu benar-benar tak mau mengatakannya?”
“Apa?”
“Katakan
kalau kamu mencintaiku,” Luna tersenyum dan mengangguk lalu membenamkan
kepalanya di pelukan Aldo. Ya. Seharusnya sejak dulu ia mengatakannya pada
Aldo. Bukan menghindar karena omongan teman-temannya.
Comments
Post a Comment