Belajar Jadi Jurnalis ( Pelatihan Jurnalistik Hari Pertama)



Belajar Jadi Jurnalis
Akhirnya jalanku menjadi jurnalis kampus sedikit demi sedikit akan tercapai. Dan semoga jalanku dengan kamu juga semakin terbuka, hehehe #apasih. Mulai tangal 8 November 2014, aku resmi ikut pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh BP2m selama 8 kali pertemuan tiap Sabtu Minggu pukul empat sore.


Materi pertama adalah berita itu sendiri yang disampaikan oleh mbak Ika. Dalam penjelasannya, berita adalah suatu laporan dari suatu peristiwa terbaru ata aktual mengenai fakta-fakta yang menarik perhatian dan penting. Jadi, apapun yang baru, penting dan menarik bisa jadi sebuah berita. Tapi walaupun kamu penting bukan berarti kamu bisa masuk berita, kamu cukup masuk di dalam hatiku aja ya, hehehe.


Dalam sebuah berita juga terdapat poin-poin penting yang harus ada dalam berita. Yakni, fakta, tercepat atau aktual, peristiwa, penting dan disebarluaskan.


Selain poin penting dalam penyampaian berita, berita juga memiliki konsep berita. Yaitu, berita sebagai laporan tercepat. Jadi, berita itu harus cepat memberikan berita yang akhir-akhir ini sedang terjadi di masyarakat. Jika tidak segera diberitakan, berita akan basi dan tidak ada gunanya untuk diberitakan. Sama kaya trik pendekatan kamu ke dia, kalau nggak segera dipraktekkan nanti bakal krik-krik.


Kedua, berita sebagai rekaman atau bahan dokumentasi. Peristiwa penting apapun yang pernah terjadi pasti koran mencatatnya. Tapi jangan harap peristiwa kencan pertamamu dicatat di koran. Itu tidak akan pernah terjadi. Tapi bersyukurlah, buat para jomblo, koran juga nggak akan memberitakan status kamu, kok. Hehehe.


Ketiga, berita sebagai bahan objektif. Di sinilah pekerjaan utama seorang jurnalis, harus mengungkapkan fakta dari suatu peristiwa. Keempat, berita interpretasi, fakta yang diberitakan harus ada penjelasan. Kelima, berita sebagai sensasi. Tahu sendiri kan, dalam sebuah berita seseorang bisa menjadi malaikat tapi seketika juga bisa menjadi binatang yang tak beradab. Itu karena kekuatan nilai sebuah berita. Berita sebagai sensasi biasanya dapat langsung dilihat dari judul yang menarik perhatian calon pembaca.


Keenam, berita sebagai human interest. Dalam human interest ini, yang menjadi perhatian penulis. Dalam konsep ini, seorang jurnalis dituntut untuk peka dan bisa melihat keadaan sekitar dari sudut pandang yang berbeda. Konsep ini mengajak pembaca untuk merasakan kedekatan secara emosional. Baik simpati terhadap orang yang menjadi objek berita atau empati atau iba hingga menimbulkan perasaan untuk menolong.


Kedelapan, berita sebagai gambar. Berita yang dilengkapi dengan gambar bermaksud untuk meningkatkan news value dari sebuah berita.


Selain teori-teori yang sedikit—banyak pernah dibahas di PJD, aku juga belajar bagaimana meliput berita. Dalam meliput berita, tidak diperbolehkan seorang jurnalis mewawancarai satu narasumber. Jurnalis harus mewawancarai lebih dari satu narasumber untuk memastikan kebenaran dari semua fakta yang telah terkumpul.


Unsur-unsur berita adalah 5 W+ 1 H. Seberapapun hebat jurnalis itu, dalam beritanya, pasti mengandung 5 W + 1 H untuk mengolah beritanya. Jika tidak ada unsut tersebut maka jurnalis itu tidak menampilkan berita apa-apa.


Semua berita harus memiliki nilai berita agar pembaca tidak membuang-buang waktunya dalam membaca berita. Nilai-nilai berita itu adalah aktualitas atau terbaru, kita bisa mendapatkan nilai berita ini pada jenis berita straight news yang bersifat to the point. Kedekatan, kedekatan yang dimaksudkan di sini adalah kedekatan secara fisik ataupun emosional. Misalnya, ada kecelakaan di Brebes, semisal Anda orang Brebes, Anda pasti ingin tahu siapa yang menjadi korban, apakah anda kenal dan sebagainya. Kegia, berita harus penting baik peristiwa ataupun orangnya. Jika tidak penting, sudah pasti kita buang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. Keempat, keluarbiasaan. Kelima, keanehan. Terkadang, sesuatu yang aneh justru lebih banyak menarik perhatian para calon pembaca. Bukan hanya aneh, berita juga harus menarik. Keenam konflik. Berita tanpa konflik pasti hambar. Harus ada konflik untuk membuat berita itu ‘ada’. Itu sama persis dengan pendekatan yang mengalami penolakan. Kalau mulus-mulus saja pasti akan basi.


Dalam sebuah berita juga memiliki anatomi untuk memudahkan pembaca memahami berita . anatominya dimulai dari pendahuluan, isi dan penutup. Pendahuluan sendiri mencakup judul yang menggambarkan isi berita, deadline agar pembaca tahu kapan hal itu terjadi, dan lead sebagai gambaran umum apa isi dari berita.


Dan pelatihan jurnalistik hari pertama berakhir dengan turunnya hujan sore itu. Semoga, dengan turunnya hujan menandakan keberkahan acara sore itu dan tulisan-tulisanku akan terus bermunculan seperti hujan yang terus datang dan banyak. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

Finally, I get it!

Ingatkan Si Pemalas

Let's Be The Best