Kita Unnes atau Unnes Juara, Tentukan Pilihanmu!



Kita Unnes atau Unnes Juara, Tentukan Pilihanmu!
Semarang—Gedung PKMU yang berada di sudut kampus telah ramai dikunjungi para simpatisan. Mereka sudah berdiri di ambang pintu, membagikan poster kandidat pilihannya sebagai bentuk dukungan. Tak sedikit mahasiswa yang sudah menentukan pilihannya.  Menerima poster tersebut lalu dengan bangga meneriakkan jargon kandidat yang akan menjadi mahasiswa nomor satu di Unnes.

Acara debat yang  dimulai pada pukul 19.30 (4/12) membuat gedung bercat putih itu dipadati mahasiswa sejak adzan isya berkumandang. Riuh-ramai para simpatisan menyerukan jargon kandidat dengan penuh semangat.

“Kita Unnes!” begitu teriakan salah seorang simpatisan yang disambut penuh gairah oleh simpatisan lainnya. “Gelora Perubahan!”

“Unnes Juara!” teriak simpatisan kandidat lain tak kalah semangat.

“Kita bisa!”

Suasana semakin panas kala video pengenalan berisi biodata kedua kandidat dan visi misinya. Riuh perang jargon menggema di seluruh ruangan yang sudah dipenuhi oleh para mahasiswa.

Pukul delapan malam, sesi pertama dimulai dengan pemaparan visi misi dari masing-masing kandidat.

Kandidat yang pertama, lebih mengedepankan pada independensi tanpa perbedaan golongan, pluralisme; membuat kabinet kerja tanpa membedakan ras, golongan, agama; menghargai semua mahasiswa unnes tanpa membedakan dia aktivis atau mahasiswa kupu-kupu; dan mengaplikasikan tiga pilar perguruan tinggi Indonesia.

“Misi kami adalah menjadikan BEM KM Unnes sebagai lembaga independen yang bergerak untuk kepentingan bersama bukan untuk kepentingan golongan tertentu. Menjadikan BEM KM Unnes sebagai sarana kontribusi aktif, kreatif, inovatif sebagai mesin penggerak untu konservasi kampus.” ungkap Arif, Cawapres nomor urut satu dengan semangat meggebu-gebu.

Misi kandidat yang kedua diutarakan oleh Chafid, “Membangun persepsi sebagai Unnes juara, membangun BEM KM sebagai lembaga yang bersahabat dengan mahasiswa, menjadikan almameter sebagai wadah untuk mengembangkan potensi, dan membangun mahasiswa sebagai mahasiswa yang mandiri secara ekonomi.”

Tepuk tangan riuh dan perang slogan membuat suasana kian panas. Hingga moderator membacakan lagi peraturan bahwa selama proses jalannya debat, tidak diperbolehkan mengalunkan jargon setiap kandidat dan menghargai kedua kandidat saat mengutarakan pendapatnya.

“Mau diapakan dan dikemanakan 33.000 mahasiswa jika kalian menjadi presma yang mana berarti kalian adalah mahasiswa nomor satu di unnes?” tanya seorang panelis saat sesi penajaman visi misi.

Kandidat nomor urut satu mengatakan bahwa mereka akan mengawal mahasiswa agar tahu arah yang jelas sesuai misi yang ketiga, membentuk karakter yang tidak dikotak-kotakkan, menjunjung tinggi pluralisme—suatu bentuk penghargaan tanpa memandang perbedaan, humanis—menghargai 33.000 mahasiswa tanpa membeda-bedakan.

Pasangan nomor urut kedua berpendapat dengan jumlah SDM yang sangat besar akan menjadi kekuatan atau kekurangan, tergantung pada bagaimana mengelolanya. Sesuai pada visi yang mereka mengangkat unnes juara, dalam hal ini mereka akan membentuk iklim juara yang mana mereka tidak ingin menyetarakan semua fakultas karena mereka yakin setiap fakultas memiliki karakternya masing-masing. Hanya perlu menguatkan karakternya, FBS dengan seninya, FIK dengan keolahragaannya.

Pertanyaan yang kedua seputar bagaimana mereka menyikapi kasus korupsi.

“Belajar bertanggungjawab dalam mengelola keuangan negara karena korupsi timbul akibat ketidaktahuan dalam mengelolanya yang membutuhkan tanggungjawab yang besar saat diamanahi serta memperbaiki bibit-bibit korupsi sejak dini, misalnya tidak mencontek saat ujian,” jelas pasangan nomor urut dua.

Berbeda, pasangan nomor urut satu lebih kepada mengawali gerakan anti korupsi melalui lembaga kemahasiswaan dan gerakan bersama. “Kita akan mengemas gerakan antikorupsi dengan sangat menyenangkan. Selain itu, sebagai mahasiswa, kita harus bisa independen, berdiri di kaki sendiri tanpa harus disetir oleh golongan tertentu dan sebagai mahasiswa, kita juga harus mengawal dan mengawasi kebijakan pemerintah.” Ungkap pasangan nomor urut satu.

Sesi ketiga adalah tanya jawab antar kandidat. Dalam sesi ini, sebagai pendengar yang kritis, kita bisa tahu bagaimana sebuah kualitas pemimpin bisa terlihat. Bukan hanya pengantar manis tanpa isi. Tapi bagaimana kontribusi nyata itu dapat dicapai.

“Jika menjadi Presma nanti, bagaimana cara mengakomodir tiga kampus Unnes yang terbagi menjadi tiga wilayah?” pertanyaan kandidat nomor urut dua.

Labib, capresma nomor urut satu menjawab dengan senyum, “Mas Labib nanti ke Ngaliyan ya, ya, ke tegal ya, ya. Secara konkritnya saya akan langsung terjun ke lapangan dan tentu mengedepankan satu prinsip; komunikasi. Dan setiap minimal sebulan sekali akan meluangkan waktu untuk ke BEM fakultas dan mengundak LK dan UKM guna menyatukan pandangan. Semangat kebinekaan.”

“Bagaimana tanggapan Anda mengenai calon ketua BEM FIP yang hanya satu? Bukankah FIP memiliki tiga wilayah kampus?” tanya Labib.

Amri mengungkapkan hal itu disebabkan oleh kurangnya minat mahasiswa terhadap politik kampus.

Sesi tanya jawab antar kandidat diwarnai dengan tepuk tangan dan sorakan tak puas dari simpatisan.

Suara kian bergemuruh kala sesi tanya jawab oleh simpatisan kepada kandidat. Kala itu, Ismi, mahasiswa FMIPA bertanya tentang hal konkrit apa, program kerja apa yang akan dilakukan oleh kandidat nomor urut dua.

Amri menjawab bahwa mereka akan membahas isu-isu yang beredar terlebih dahulu dan menadhulkan pendidikan. Selebihnya, ia belum tahu karena belum paham dan belum bergerak. Chafid, pasangannya, pun menyetujui hal tersebut.

Pertanyaan kedua diajukan untuk kandidat nomor urut satu yang berkenaan dengan difabel. Bagaimana mereka memandang difabel jika ingin bergabung dalam kabinet lalu bagaiman dengan sikap anggota kabinet yang kurang respek dan apakah komitmen nomor satu jika ingin bergabung?

Sesuai dengan jargon nomor satu, Arif mengatakan, tidak ada perbedaan perlakuan karena kita satu dan kita akan rangkul mereka. Labib menambahkan seperti misi yang mereka usung, humanis, memanusiakan manusia dan menganggap bahwa semua mahasiswa memiliki hak yang sama.

Putri, seorang gadis dengan jilbab yang lebar, syar’i, mengajukan pertanyaan untuk nomor urut dua. Wadah apa yang akan ditujukan pada mahasiswa non-Islam?

Amri menyatakan bahwa dia yakin pada kebaikan yang telah diajarkan oleh kedua orangtuanya.

acara debat capresma dan cawapresma diakhiri dengan closing statement.

Pasangan nomor urut satu menyanyikan jingle kita unnes. Sementara pasangan nomo urut satu menyuarakan gelegar hidup mahasiswa dan meminta untuk peka dalam memilih.

9 Desember 2014, pemira Unnes akan segera tiba. Akankah Anda diam saja dengan gemuruh pesta demokrasi yang sedang berlangsung saat ini? Apakah Anda akan diam saja dengan pilihan yang akan mempengaruhi pendidikan Anda? Tentukan pilihan Anda, golput bukan solusi!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Finally, I get it!

Ingatkan Si Pemalas

Let's Be The Best