Janji Tiga Sahabat
Kata
orang, persahabatan itu bisa diibaratkan sebagai kepompong. Yang harus bersabar
sampai persahabatan itu indah saat menjadi kupu-kupu. Tapi kita tak mau
persahabatan kita bagai kepompong. Yang tak boleh bertemu selama dua puluh satu
hari supaya jadi indah. Kita ingin bersama kala jadi telur, ulat, kepompong
hingga kupu-kupu.
Kita
lebih suka mengibaratkan persahabatan dengan sebuah penghapus. Tahu artinya
penghapus, kan? Alat berbahan karet yang bisa digunakan untuk mengoreksi
kesalahan. Kita ingin seperti itu. Mengoreksi kesalahan kita. Saling
mengingatkan untuk menjadi lebih baik.
Awalnya,
kita beli penghapus yang sama karena penghapus kita sama-sama hilang. Kebetulan
yang indah. Jangan-jangan kita jodoh (?) skip.
Warna-warni. Sama seperti pribadi kita yang berbeda. Aku tak suka warna merah. Bagiku,
warna mernah berarti berhenti. Sama seperti lampu lalu lintas di perempatan
jalan. Tapi, adakalanya, aku suka warna merah kala harus berjuang. Aku tak
boleh berhenti untuk berjuang. Mereka sangat mengenalku. Jadi,
Silvi,
gadis menyebalkan dan sering menyiksaku itu membelikan warna hijau untukku. Terimakasih,
Teman.
Eva,
gadis cungkring yang saat ini berusaha memperbesar lengannya berujar hal aneh. Meminta
jari kita difoto bersama penghapus.
“Mau
berjanji?” begitu ucapnya setelah Silvi membagikan penghapus.
Kita
hanya saling pandang. Janji apa?
“Janji
sebelum penghapus ini habis, kita sudah harus jadi orang,”
Kita
tertawa. Memangnya sebelum ini kita bukan orang, Va? Tapi, Eva serius. Maksudnya,
orang yang beneran orang. Orang yang berguna. Yang sudah menjalankan semua
tugas sebagai manusia. Karena janji itu, kita jadi sayang menggunakan penghapus
itu. Semakin kecil ukuran penghapus, semakin sedikit waktu kita berusaha. Tapi,
di sisi lain, penghapus itu seolah berpesan untuk melakukan hal terbaik selagi
masih ada waktu dan manusia selalu memiliki waktu yang singkat.
Dalam
foto itu, kita membentuk segitiga. Bukan segitiga biasa. Juga bukan segitiga
sembarang karena sisinya yang berbeda ukuran. Punya Eva lebih panjang. Bukan. Tapi
segitiga itu seperti lambang daur ulang. Recycle,
reuse, reduce. Kita berharap seiring perjalanan waktu, persahabatan kita
tak akan menjadi sampah yang akan terbuang begitu saja. Persahabatan kita akan
terus didaur ulang—tak terputus meski waktu sudah bergulir sangat lama.
Pernah,
kita berandai-andai. Kala kita menginjak senja nanti, kita akan tetap bertemu. Dan
semoga itu menjadi hal nyata suatu saat nanti. Bahkan, kami pernah berujar akan
besanan. Hahaha!
Dan
malam itu, disaksikan oleh Hana. Kita berjanji untuk berusaha menjadi orang. Sahabat-sahabatku
ini memang keren gila. Saling mengoreksi jika kita salah. Sesuai fungsi
penghapus. Seperti proses menjadi kupu-kupu. Kita akan bersama, menguatkan satu
sama lain hingga kita menjadi seseorang yang seindah kupu-kupu.
Terimakasih,
teman. Selama ini sudah menangani semua kebutuhanku. Terimakasih, telah
membangunkanku setiap pagi. Maaf, jika aku menyebalkan. Mematikan panggilan
dari kalian atau men-silent ponselku.
Tahu sendiri kan, kalau orang di bawah sadar itu menyebalkan? Hehehe. Dan,
terimakasih telah menyiksaku jika aku malas salat. Aku sayang kalian. Muah muah
:*

Comments
Post a Comment