Kakao untuk Kayla
Mata Dyko tertancap pada gadis
berkuncir ekor kuda. Segera, Dyko melepas handuk lalu memakai seragam putih
abu-abu. Tangannya meraih jel dan merapikan rambut keriwilnya yang hampir
menyentuh telinga. Dyko kembali berkaca, merapikan kerah dan ujung seragam.
Dyko baru keluar kamar setelah menyemprotkan parfum.
Langkah Dyko berhenti di dapur. Tak
sempat sarapan, sudah pukul enam empat puluh. Dyko hanya mengambil kunci motor
di atas kulkas. Senyum simpul terukir di wajahnya. Gadis di terasnya pasti akan
tercengang.
“Dyko!” Kayla kembali berteriak, “lama
banget sih!”
Dyko tak mengindahkan teriakan Kayla.
Malah asyik mengelap motor barunya.
“Dyko!”
Alis Kayla terangkat melihat Dyko
keluar tanpa sepeda gunung yang biasa mereka gunakan. Sudah berganti Ninja
merah keluaran terbaru.
“Keren kan, Kay?” pamer Dyko dengan
senyum sok ganteng. Menampakkan lesung pipit di wajahnya.
Kayla berkacak pinggang lalu pergi
meninggalkan rumah Dyko. Dyko hanya menggaruk kepala. Lima menit kemudian,
Kayla muncul dari rumahnya yang berbatas tembok semeter dari rumah Dyko, menggunakan
jaket kuning dan topi dengan tergesa.
“Buruan Kay, telat nih!”
Kayla tak mengindahkan panggilan Dyko.
Justru, Kayla masuk ke garasi dan mengeluarkan sepeda gunungnya berwarna biru.
Semua siswa di sekolah membicarakan
motor baru Dyko. Tak sedikit yang menawarkan diri untuk diboncengnya. Tapi,
Dyko tak tertarik. Dia hanya peduli pada gadis yang masih berlari mengelilingi
lapangan.
Dyko beranjak. Segera, memberikan botol
minuman kepada Kayla. Tapi Kayla menolak. Dyko kembali mengeluarkan sesuatu
dari saku. Sebatang coklat. Dia tahu, Kayla pasti luluh.
“Ada yang salah ya, Kay?” tanya Dyko
saat mereka duduk di tepi lapangan.
“Lo yang udah ngelanggar janji,” sahut Kayla
lalu memakan coklatnya.
Alis Dyko bertaut lalu berdecak kesal.
“Apa yang salah Kay dengan naik motor? Bukannya itu akan menghemat waktu?”
“Dyko, jarak sekolah kita itu hanya
lima kilo. Naik sepeda, lima belas menit juga sampai.”
Kayla beranjak. Dyko meraih lengan
Kayla tapi dihempaskan begitu saja.
Tak ada tanda Kayla akan keluar dari
kamar. Dyko mendesah pelan. Padahal, bulan sedang bersinar terang ditemani
jutaan bintang. Biasanya, mereka akan mengobrol di atap rumah hingga kantuk
datang sambil memandang langit. Tapi hingga pukul sepuluh, Kayla tak kunjung
menampakkan diri. Dan benar, rumah Kayla sudah gelap.
Keesokan paginya, Dyko menunggu Kayla
di depan rumah. Lengkap dengan sepasang helm biru. Tapi, sudah pukul enam empat
puluh, Kayla tak kunjung keluar.
“Kayla!”
Bibir Dyko mengerucut saat melihat
wanita paruh baya muncul dari dalam rumah dan bilang kalau Kayla sudah
berangkat pagi-pagi.
Sial!
“Ya sudah, Dyko berangkat Tante.” Dyko
meninggalkan pekarangan rumah Kayla setelah mencium punggung tangan tante Hana.
Saat bertemu Kayla di sekolah, Dyko
dengan sengaja memamerkan diri berangkat bareng Vanda.
“Ya udah, ntar tak anterin pulang,
Nda.” Ujar Dyko memamerkan senyum manisnya.
Kayla berlalu. Tak menghiraukan Dyko
yang baru menerima kiss bye dari
Vanda. Baru beberapa langkah, namanya dipanggil.
Cowok berperawakan tinggi, beralis
tebal dengan kulit sawo matang muncul di depan Kayla.
“Minggu, jadi ikut kan, Kay?” tanya
David, kakak kelas Kayla.
Kayla mengangguk mantap seraya berujar.
“Jadi.”
Minggu pagi, biasanya Dyko akan
menemani Kayla menyiram tanaman di halaman depan juga samping. Tapi, matahari
sudah di atas kepala, Kayla tak juga meraih selang itu. Akhirnya, Dyko hanya
berdiam diri di teras.
Diambilnya ponsel dari saku. Membuka
sosial media. Matanya terbelalak saat melihat Kayla yang tertawa tanpa beban
bersama David. Di foto itu, mereka tengah asyik menanam pohon kakao sambil
berpegangan tangan. Dan, mata mereka beradu. Membuat sesuatu di dada Dyko
terguncang.
Dengan kesal, Dyko masuk rumah dan
membanting pintu.
“Baiklah, Kayla. Kalau itu mau lo!”
Sudah sebulan tak ada saling sapa
antara Dyko dan Kayla. Dyko sudah tak peduli. Beberapa hari yang lalu, Dyko
melihat Kayla diantar David. Naik motor. Apa katanya? Jangan naik motor!
Kasihan bumi. Sekolah juga dekat.
Dan itu mereka. Sedang berjalan
bersisian sambil tertawa. Segera, Dyko mencari perhatian Vanda.
“Nda, ntar kita jalan-jalan ya,” pinta
Dyko pada Vanda yang sedang menyesap jus mangga.
“Aduh, Dyko. Sorry, aku nggak bisa.”
sahut Vanda terpaksa menarik ujung bibirnya. Membentuk senyuman.
Vanda bangkit, meninggalkan kantin yang
masih sesak dipenuhi murid kelaparan. “Duluan, ya Dyko.”
Di sudut kantin. Setelah memesan
makanan, David dan Kayla celingukan
mencari tempat duduk kosong. Huh, hanya ada satu tempat kosong. Di depan Dyko.
Menyadari mereka mendekat, Dyko segera
pergi dari kantin. Sudah tak nafsu menghabiskan makan siangnya.
Saat hendak berbelok ke kelas, Dyko
mendengar suara tawa Vanda. Hampir saja Dyko menyapanya tapi tak jadi karena
ucapan Vanda.
“Idih, siapa lagi yang mau jalan sama
cowok gendut kaya dia. Lagian, motornya juga udah nggak keren!”
Bergegas, Dyko pergi ke kamar mandi.
Mencoba untuk mengabaikan suara tawa Vanda dan teman-temannya.
Di dalam cermin itu tidak ada lagi
badan Dyko yang six pack atau pipi
tirusnya. Pantas saja, seragamnya mulai sesak. Ini semua gara-gara Vanda, gerutunya
dalam hati. Selama bersama dengan Vanda, tak pernah sekalipun absen memakan junk food. Belum lagi, porsinya jumbo
atau double. Sampai di rumah ngembil
ditambah makan mie di rumah karena Bunda lagi ke luar kota. Juga, makan coklat
setiap kali ia rindu Kayla. Tunggu! Rindu? Dyko menggeleng berulang kali.
“Ingat lemak, remaja cepat sekali
perubahannya!” begitu pesan Bunda yang dihiraukan Dyko.
Coba masih bareng Kayla. Setiap hari,
pasti makan sayur yang dipetik langsung dari halaman samping dan dimasak khusus
untuk Dyko.
Tak ada lagi motor untuk Dyko. Ia harus
berolahraga. Tapi, sebelum membakar kalori, hatinya sudah terbakar melihat
Kayla dijemput David.
Senyum yang sudah lama tak dilihat Dyko
muncul di wajah Kayla. Ah, Dyko rindu senyum itu.
“Apa karena Dyko gendut, Kayla sekarang
nggak mau jalan sama aku?” tanya Dyko pada dirinya sendiri setelah mobil pick up yang ditumpangi David dan Kayla
menjauh.
Dyko menggeleng berulang kali. Tak
perlu dipikirkan. Yang penting, lanjut push
up.
Dyko sakit. Kayla kaget setelah
mendengarnya dari Mama. Sontak, dia langsung berlari ke samping. Membuka pintu
rumah Dyko dengan kasar. Napasnya terengah saat memasuki kamar Dyko.
“Kayla?” panggil Dyko tak percaya. Ia
lalu bangkit dan menyuruh Kayla duduk di tepi ranjang. Tipuannya berhasil.
“Maafin gue, ya Kay?” Dyko menatap lurus ke mata Kayla
sambil memegang tangannya.
“Janji deh, nggak akan naik motor lagi.
Asal kamu nggak pergi sama David,” tambahnya mengacungkan jari kelikingnya.
Pupil mata Kayla melebar. Dyko tak
mengerti lalu mengambil sekotak coklat di meja belajarnya. “Buat lo, Kay.”
Kayla tertawa. “Jadi, lo nyuap gue
supaya nggak deket sama Vanda?”
Anggukan kepala Dyko membuat Kayla kian
terbahak. Tapi tawanya berhenti saat melihat wajah Dyko mendadak serius.
“Lo tahu, kenapa gue deket sama David?”
Alis Dyko bertaut. “Karen lo mau balas
gue karena Vanda.”
Kayla berdecak kesal. “Balas lo? Nggak
lah. David itu ketua Korenam. Jadi, ya gue pengen belajar banyak dari dia.”
Dyko melongo. “Korenam? Komunitas
Remaja Menanam?”
Kayla mengangguk.
“Gue pikir itu gurauan. Beneran ada,
ya.” Dyko bergumam pelan lalu kembali menatap Kayla. “Terus kenapa lo nggak
pernah nyapa gue?”
“Idih, males. Lo bareng Vanda mulu.
Males gue berurusan sama Vanda. Lagian, tahun lalu pas mantannya Vanda
ngedeketin gue, pohon Kakao gue mati di tangan Vanda.”
“Jadi, lo lebih sayang kakao lo yang
mati terus itu dibanding gue?!”
Dyko menguap lebar. Mimpinya semalam
terlalu indah membuatnya bangun kesiangan. Tangan dan kakinya direntangkan
sejauh mungkin. Senyum disunggingkan di wajahnya. Segera, ia bangun dan
menghampiri Kayla.
Minggu pagi, tak ada David yang
menjemput Kayla. Janjinya beberapa hari yang lalu. Dan benar, Dyko melihat
Kayla mencabuti rumput di sekitar pohon kakaonya. Wajahnya tak berseri seperti
semalam. Mukanya ditekuk.
Dyko melompati tembok pembatas.
Dilihatnya, Kayla murung menatap pohon kakao setinggi tiga puluh senti yang
layu.
“Kay,” panggil Dyko. “Ikut gue yuk!”
Kayla menurut. Sampai di gerbang rumah,
Dyko meminta Kayla menutup matanya. Awalnya, Kayla bingung.
“Ini kan 14 Februari, jadi biar lo
nggak sedih ditinggal kakao lo yang mati terus. Biar gue kasih kejutan!’
Pipi Kayla menggembung. Sebal
mengungkit kegagalannya menanam kakao. Ia tak lagi mengelak saat telapak tangan
Dyko menutupi matanya.
“Dyko! Tangan lo bau!” teriak Kayla
yang diabaikan Dyko. Dyko masih senyum-senyum membayangkan reaksi Kayla melihat
kejutan yang sudah disiapkannya.
“Taaraaa!”
Kayla membuka matanya perlahan. Pipinya
mulai memanas. Kristal bening itu jatuh dari matanya membentuk sungai kecil
yang mengalir di pipinya.
“Suka?” tanya Dyko lalu menggandeng
tangan Kayla mendekat pada kejutannya.
Kayla tak mampu berkata, hanya
mengangguk. Matanya masih tertancap pada pohon yang dibuatkan Dyko. Tiruan
kakao dengan kertas koran setinggi satu meter. Di beberapa tangkai batangnya
ada coklat yang ditali.
“Makasih ya, Ko.”
Tangan Dyko meraih sebatang coklat lalu
menyerahkannya pada Kayla. Senyum itu kemabli mengembang di wajah Kayla.
Kembali, Dyko mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Beberapa foto.
“Sekarang lo nggak perlu lagi berharap
kakao tumbuh di Jakarta. Kalau lo mau lihat Kakao berbuah, gue bisa ajak lo ke
rumah nenek gue di Limbangan Kendal.”
Kayla tersenyum menatap foto Dyko dan
neneknya dengan kakao yang sedang berbuah lebat.
“Jadi?”
Kening Kayla berkerut. Menimbang-nimbang
pernyataan Dyko tahun lalu. Dyko menantinya dengan keringat yang bercucuran.
Degup jantungnya yang sudah tak beraturan mendadak berhenti melihat Kayla
mengangguk. Sontak, Dyko langsung memeluk Kayla.
Comments
Post a Comment