Yang Terpendam
Sepasang
mata itu tampak berbeda dari yang lain. Tidak berbinar seperti semua orang di
kapal Bahari Express.
“Lagi
ada masalah?” ujarku membuka percakapan.
Dia
tak menjawab. Wajahnya kusut. Seolah tak pernah bahagia. Hei, apa yang kurang
dalam hidupnya? Usahanya di bidang kuliner sedang bagus-bagusnya dan memiliki
pacar yang sempurna.
“Tidak
ada,” ujarnya datar lalu berjalan menuju geladak utama.
Rambut
sepinggangnya menari-nari disapa bayu. Dia memejamkan mata lalu merentangkan
kedua tangannya.
“Apa
kau bertengkar dengan Bara?”
Lagi-lagi
dia memilih bungkam. Aku memilih berdiri
di sampingnya, yang tanpa sadar meraih tubuhnya dan merengkuhnya dalam pelukku.
“Luapkan
saja,” ujarku saat menangkap genangan di sudut matanya.
***
“Apa
angin bisa menerbangkan luka?” tanyaku setelah bendungan di mataku pecah.
Lagi-lagi aku menangis di pundaknya.
“Aku
belum tahu,” ujar lelaki di sampingku. Dia melepaskan pelukannya lalu memegang
pundakku dan menatapku, dalam. “Tapi selalu ada obat untuk penyembuh luka,”
Ponselku
bergetar. Kualihkan perhatian pada benda itu. Nama Bara terukir memanggil di
sana. Tapi, aku sudah muak. Aku tak mau peduli lagi dengannya.
“Kenapa
tak diangkat?”
“Tidak
penting,” ujarku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket. Selang beberapa
menit, ponsel Bayu bergetar.
Bayu
menunjukkan ponselnya padaku. Lagi-lagi Bara. Ah, apa maunya pria itu. “Boleh
aku mengangkatnya?”
***
Wanita
ini benar-benar gila. Bisa-bisanya dia pergi dengan pria lain di saat anniversary pertama.
“Syukurlah
kalau dia bersamamu,” ucapan Bara di sambungan telepon.
“Aku
akan menjaganya untukmu,” janjiku padanya sebelum mengakhiri telepon.
Wanita
itu benar-benar membuatku geram. “Apa kau sudah gila?”
“Dia
yang sudah gila,” sahutnya sambil memeluk lutut.
Aku
selalu benci dilibatkan ke dalam percintaannya. Pernah, dulu semasa putih
abu-abu, dia memilih menghabiskan liburan akhir tahun bersamaku karena bertengkar
dengan pacarnya. Sekarang? hal yang sama dilakukannya. Apaan dia? Seenaknya
saja! Dan bodohnya, kenapa aku tak pernah bisa menolaknya?
Satu
menit. Dua menit. Tidak ada suara. Hanya deburan ombak dan terpaan angin yang
mengisi kekosongan di antara kami.
“Ceritakan
apa yang terjadi, kau tak mengajakku berlibur untuk berdiam diri seperti ini
kan?” ujarku tak tahan dengan kebungkamannya.
***
Aku
mengginggit bibir. Menimbang akan bercerita padanya atau tidak. Aku menatap
matanya. Ada ketulusan di sana. Selamanya, mungkin aku hanya bisa bercerita
pada Bayu.
“Bara
selingkuh,” ujarku kemudian.
Dia
tertawa. Bahkan sampai memegangi perutnya. Aku memicingkan mata. Ini bukan hal
lucu, kan?
Bayu
berhenti tertawa saat melihat raut wajahku yang ingin melumatnya hidup-hidup. “Kau
bercanda?”
Aku
berharap begitu. Tapi kenyataannya itu memang terjadi. Aku melihatnya saat
malam tahun baru bersama sekretarisnya di kantor. Saling menautkan bibir.
Bagaimana raut wajahnya saat dia tahu aku membuat kejutan dengan dua tiket kapal
ke Karimun Jawa. Bukan acara snorkeling
di berbagai pulau indah yang membuatnya terkejut tapi kedatanganku.
***
Aku
mengelus kepalanya. Aku tak tahu jika lelaki sesempurna Bara menutupi
perselingkuhannya dengan sempurna hingga aku yang sekantor dengannya tidak tahu.
Sahabat macam apa aku ini?
“Tenanglah,
kau akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada dia,” kataku sambil
mengacak-acak rambutnya. Berharap dia akan membalasku.
Tapi
tidak, dia justru memelukku sangat erat.
Dia
melepaskan pelukannya. Matanya menatapku, sangat dalam. Lagi-lagi dua anak
sungai mengalir deras di pipinya. “Aku senang kamu akan melepas masa lajang
bulan depan,”
Aku
menghapus air matanya dengan ujung lengan jaketku, “Jangan cengeng seperti itu.
Walaupun aku sudah tak bujang, kau masih boleh menculikku kapan saja,”
Dia
tertawa. Menampakkan gigi gingsul di sebelah kanan. Aku suka suara tawa itu.
***
“Semua
orang bisa merasakan angin sama seperti merasakan cinta,” ucapku saat kapal
berhenti di pelabuhan Karimun Jawa. Orang-orang sudah berbondong-bondong ingin
turun. Tapi aku masih enggan. Perjalanan laut dua jam membuatku masih betah
menatap kapal-kapal yang sebentar lagi akan meninggalkan pelabuhan.
“Jangan
sok berpuitis dan segeralah turun Tirta,” perintah Bayu lalu menggandeng
tanganku.
Aku
menahannya dan menatap matanya lebih dalam, “Kenapa aku bisa merasakan angin
tapi aku tak pernah bisa memilikinya?”
Tangan
Bayu beralih di kedua pundakku. Matanya menyelami kedalaman mataku, “Kau
sekarang boleh memiliki angin di depanmu ini sebelum menjadi milik orang lain,”
begitu ujarnya sebelum turun dan mencari mobil pick up untuk membawa kami ke home
stay.
Aku
hanya bisa menatap punggung pria yang sebentar lagi akan pergi jauh dari
kehidupanku. Tanpa sadar, air mataku menetes. Betapa bodohnya aku membiarkan
cinta itu pergi dari hidupku. Sekarang aku tahu, angin bisa menyembuhkan luka. Dia
selalu hadir kapanpun aku membutuhkannya. Dan angin itu...Bayu. Kenapa cinta
selalu datang terlambat?
***
Aku
tahu cinta itu seperti bayu—angin—yang selalu menggerakkan air hingga membentuk
ombak. Walau air—tirta—tak pernah membalasnya, angin tak pernah lelah.
Mungkin,
aku orang yang paling bahagia melihat putusnya Bara dan Tirta. Karena hal itu,
aku sadar akan sesuatu.
Ponsel
Tirta bergetar. Ada pesan masuk. Dahinya berkerut membacanya.
Hei,
Tirta. Milikilah angin ini sesuka hatimu. Karena gadis yang sering kuceritakan
tak pernah ada. Kau tahu? Itu hanya sebuah alasan untuk membuatmu tak khawatir.
Aku mencintaimu.
Comments
Post a Comment