Membandingkan Diri dengan Orang Lain Hanya Akan Membuatmu Sakit Hati, Begini Perbandingan yang Meningkatkan Semangat
Tidak adil namanya membandingkan diri sendiri dengan orang lain yg lebih sukses atau orang lain yg lebih buruk. Yang adil adalah membandingkan diri sendiri dengan diri sendiri di masa lalu, saat ini dan masa depan. Apakah diri sendiri lebih baik saat ini dibandingkan masa lalu? Mau seperti apa diri sendiri di masa depan (Ilham Alkian)
Semua orang pasti pernah membandingkan diri sendiri dengan apapun. Kemarin sore aku melakukannya. Betapa menyenangkannya berada di posisi mas Wahyu Pendidikan Matematika 2013. Lolos CPNS dan LPDP. Tapi malamnya langsung teringat ucapan Ilham pada peserta BPUN 2019 pas paginya. Begitu ngena, begitu nampar. Lha kok nggak adil banget aku sama diriku sendiri?
Jadilah hari ini aku melakukan perbandingan yang adil. Membandingkan diriku saat ini dengan masa lalu. Yang ternyata malah membuatku merindukan beberapa orang dan bertekad untuk menjadi lebih baik lagi. Inilah hasil refleksiku hari ini.
1. Menemukan file dengan tulisan C. Lina Purwati, S.Pd
Aku cuma bisa ketawa pas nemu pembahasan soal SBMPTN Matematika Dasar dan Matematika IPA 2014 yang kutulis pasca mengikuti tes. Segitunya ya aku pengen banget menjadi penulis buku matematika. Begitu cintanya aku sama matematika. Tapi dari sini aku menyadari kalau apa yang terjadi di hari ini adalah apa yang kuharapkan di masa lalu.
Dulu membayangkan bagaimana rasanya menjadi TIM SOAL dari olimpiade matematika. Semasa kuliah itu tercapai. Dari mulai menjadi tim soal Forum Ilmiah Nasional Matematika Unnes (FIMNAS Unnes) hingga tim soal Olimpiade Sains Terapan Nasional bidang matematika non teknologi. Benar ya, kalau apa yang kita bayangkan, kita harapkan suatu saat nanti bisa tercapai. Tuh, jadi bayangkan aja kamu nanti bersanding dengan dia, eh. Tapi kan siapa tahu lho ya beneran jadi nyata.
2. Melawan rasa takut
Sejak 2011, aku nggak berani lagi naik motor. Karena sebuah insiden diserepet truk pas maghrib-maghrib. Jadilah lebih dari tujuh tahun nggak berani naik motor. Tapi akhirnya Oktober 2018 memberanikan diri untuk bisa naik motor. Karena insiden bapak kecelakan, adik merantau ke kalimantan dan nggak mau lagi ngrepotin kangdi untuk cuma nganter. Jadi, I'm proud of my self. Terima kasih telah seberani itu melawan rasa takut. Terima kasih telah berhasil menahan degup jantung yang begitu kencang setiap kali truk lewat yang degupnya hampir sama seperti lihat dia senyum, eaaa. #apasih.
Ternyata menyenangkan berhasil melawan rasa takut. Dari dulu gak pernah mau yang namanya naik motor. Udah keringet dingin sama takut gitu. Karena di dalam kepala sudah mikir nanti kalau ada motor lain yang tiba-tiba nyalip terus buat jatuh gimana, atau mobil yang kencang dari arah depan dan pikiran negatif lainnya. Dari refleksi ini aku sadar kalau rasa takut ya harus dihadapi. Dilawan secara langsung.
3. Satu per satu mimpi yang mulai terwujud
Terima kasih untuk diriku yang sudah berusaha mewujudkan satu per satu mimpi. Alhamdulilah, sudah menyelesaikan kuliah S1 Pendidikan Matematika, novel remaja yang selesai ditulis dengan menerapkan teori-teori menulis yang sudah dipelajari. Cara membuat pembaca penasaran dengan menyelipkan tanya tiap bab, sebuah teka-teki, alur yang cepat dan masih banyak lagi. Semoga tetap berusaha hingga semua mimpi dapat tercapai ya.
3. Perkembangan di Olimpiade
Ada sedikit penyesalan kalau soal olimpiade matematika. Terlebih di ONMIPA-PT. Nggak ada gitu perubahan perinkat. Tetap cuma sebagai kontingen universitas. Rasanya kurang greget gitu 4 kali ikut ONMIPA gitu terus. Rasanya nyesel tapi balik lagi, nyesel nggak akan buat perubahan apapun. Tarik napas dalam-dalam dan mari bersyukur. Sejak SMP mengikuti olimpiade sudah berkembang meski sedikit demi sedikit. Dari yang awalnya hanya peserta di tingkat kecamatan menjadi peserta di tingkat provinsi hingga nasional. dari yang awalnya pesrta, finalis, juara, tim soal, juri hingga pembimbing olimpiade. Mari jangan lupakan itu. Tetap semangat dan bekerja keraslah lebih lagi. ONMIPA PT hanya 4 kali kesempatan. Tapi olimpiade matematika hingga nanti Lina Purwati punya banyak kesempatan untuk berkembang. Tetap belajar. Meski berulang kali gagal, kamu punya semangat dan kerja keras yang patut untuk terus dimiliki untuk mencapai tujuan. Semangat, ya.
Banyak hal positif yang bisa kudapatkan setelah refleksi diri. Seperti mendapat baterai baru untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Membandingkan memang harus dengan ukuran yang benar. Penggaris yang tepat, soal diri sendiri di waktu yang berbeda.
Coba kalau membandingkan diri dengan orang lain, aku akan semakin terpuruk. Membandingkan diri dengan mas Wahyu yang lolos LPDP dan CPNS yang membuatku berpikir, "apa aku begitu bodoh ya sampai nggak lolos CPNS?" berpikir seperti ini malah membuatku seolah menyalahkan takdir. Dinikmati sajalah. Toh, dulu mengalami salah jurusan hingga gagal SBMPTN 2013 malah membuatmu mengalami takdir yang terasa seperti roller coaster. Bikin dag-dig-dug di setiap persimpangan, persis pas ketemu kamu, #eaaa.
Atau membandingkan diri dengan Ratna yang semalam lamaran dan habis lebaran nikah membuatku berpikir, "Senangnya jadi ratna, aku kapan mengalami masa itu. Lah tiap hari ketemu papan tulis terus, entah kapan ketemu jodoh." yang ada pemikiran seperti itu malah membuatku menjadi tidak semangat hidup. Toh, manusia sudah punya lajur masing-masing. Barangkali memang belum saatnya bertemu jodoh atau sudah bertemu tapi belum tahu kalau kamu jodohku. Ya, jadinya dinikmati saja. Mengingat lagi bagaimana senyum Lina Purwati saat berdiri di depan kelas dengan mata berbinar saat menjelaskan matematika, degup jantung yang menyenangkan saat menemui soal-soal yang menantang atau tertawa bersama teman di sela-sela bekerja. Mari bersyukur lebih banyak, Lina Purwati.
Terima kasih pelajaran berharganya, Ilham. Kadang aku pengen pinjem isi kepalamu buat tahu cara pandangmu tentang dunia, mimpi, masalah, cobaan, jodoh, atau apapun. Rasanya pemikiranmu yang luas itu, yang melihat dari banyak sisi itu seperti mengurai isi kepalaku yang ribet.
Salam cinta,
Lina Purwati yang masih berusaha memperjuangkan satu per satu mimpi.
Semua orang pasti pernah membandingkan diri sendiri dengan apapun. Kemarin sore aku melakukannya. Betapa menyenangkannya berada di posisi mas Wahyu Pendidikan Matematika 2013. Lolos CPNS dan LPDP. Tapi malamnya langsung teringat ucapan Ilham pada peserta BPUN 2019 pas paginya. Begitu ngena, begitu nampar. Lha kok nggak adil banget aku sama diriku sendiri?
Jadilah hari ini aku melakukan perbandingan yang adil. Membandingkan diriku saat ini dengan masa lalu. Yang ternyata malah membuatku merindukan beberapa orang dan bertekad untuk menjadi lebih baik lagi. Inilah hasil refleksiku hari ini.
1. Menemukan file dengan tulisan C. Lina Purwati, S.Pd
Aku cuma bisa ketawa pas nemu pembahasan soal SBMPTN Matematika Dasar dan Matematika IPA 2014 yang kutulis pasca mengikuti tes. Segitunya ya aku pengen banget menjadi penulis buku matematika. Begitu cintanya aku sama matematika. Tapi dari sini aku menyadari kalau apa yang terjadi di hari ini adalah apa yang kuharapkan di masa lalu.
Dulu membayangkan bagaimana rasanya menjadi TIM SOAL dari olimpiade matematika. Semasa kuliah itu tercapai. Dari mulai menjadi tim soal Forum Ilmiah Nasional Matematika Unnes (FIMNAS Unnes) hingga tim soal Olimpiade Sains Terapan Nasional bidang matematika non teknologi. Benar ya, kalau apa yang kita bayangkan, kita harapkan suatu saat nanti bisa tercapai. Tuh, jadi bayangkan aja kamu nanti bersanding dengan dia, eh. Tapi kan siapa tahu lho ya beneran jadi nyata.
2. Melawan rasa takut
Sejak 2011, aku nggak berani lagi naik motor. Karena sebuah insiden diserepet truk pas maghrib-maghrib. Jadilah lebih dari tujuh tahun nggak berani naik motor. Tapi akhirnya Oktober 2018 memberanikan diri untuk bisa naik motor. Karena insiden bapak kecelakan, adik merantau ke kalimantan dan nggak mau lagi ngrepotin kangdi untuk cuma nganter. Jadi, I'm proud of my self. Terima kasih telah seberani itu melawan rasa takut. Terima kasih telah berhasil menahan degup jantung yang begitu kencang setiap kali truk lewat yang degupnya hampir sama seperti lihat dia senyum, eaaa. #apasih.
Ternyata menyenangkan berhasil melawan rasa takut. Dari dulu gak pernah mau yang namanya naik motor. Udah keringet dingin sama takut gitu. Karena di dalam kepala sudah mikir nanti kalau ada motor lain yang tiba-tiba nyalip terus buat jatuh gimana, atau mobil yang kencang dari arah depan dan pikiran negatif lainnya. Dari refleksi ini aku sadar kalau rasa takut ya harus dihadapi. Dilawan secara langsung.
3. Satu per satu mimpi yang mulai terwujud
Terima kasih untuk diriku yang sudah berusaha mewujudkan satu per satu mimpi. Alhamdulilah, sudah menyelesaikan kuliah S1 Pendidikan Matematika, novel remaja yang selesai ditulis dengan menerapkan teori-teori menulis yang sudah dipelajari. Cara membuat pembaca penasaran dengan menyelipkan tanya tiap bab, sebuah teka-teki, alur yang cepat dan masih banyak lagi. Semoga tetap berusaha hingga semua mimpi dapat tercapai ya.
3. Perkembangan di Olimpiade
Ada sedikit penyesalan kalau soal olimpiade matematika. Terlebih di ONMIPA-PT. Nggak ada gitu perubahan perinkat. Tetap cuma sebagai kontingen universitas. Rasanya kurang greget gitu 4 kali ikut ONMIPA gitu terus. Rasanya nyesel tapi balik lagi, nyesel nggak akan buat perubahan apapun. Tarik napas dalam-dalam dan mari bersyukur. Sejak SMP mengikuti olimpiade sudah berkembang meski sedikit demi sedikit. Dari yang awalnya hanya peserta di tingkat kecamatan menjadi peserta di tingkat provinsi hingga nasional. dari yang awalnya pesrta, finalis, juara, tim soal, juri hingga pembimbing olimpiade. Mari jangan lupakan itu. Tetap semangat dan bekerja keraslah lebih lagi. ONMIPA PT hanya 4 kali kesempatan. Tapi olimpiade matematika hingga nanti Lina Purwati punya banyak kesempatan untuk berkembang. Tetap belajar. Meski berulang kali gagal, kamu punya semangat dan kerja keras yang patut untuk terus dimiliki untuk mencapai tujuan. Semangat, ya.
Banyak hal positif yang bisa kudapatkan setelah refleksi diri. Seperti mendapat baterai baru untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Membandingkan memang harus dengan ukuran yang benar. Penggaris yang tepat, soal diri sendiri di waktu yang berbeda.
Coba kalau membandingkan diri dengan orang lain, aku akan semakin terpuruk. Membandingkan diri dengan mas Wahyu yang lolos LPDP dan CPNS yang membuatku berpikir, "apa aku begitu bodoh ya sampai nggak lolos CPNS?" berpikir seperti ini malah membuatku seolah menyalahkan takdir. Dinikmati sajalah. Toh, dulu mengalami salah jurusan hingga gagal SBMPTN 2013 malah membuatmu mengalami takdir yang terasa seperti roller coaster. Bikin dag-dig-dug di setiap persimpangan, persis pas ketemu kamu, #eaaa.
Atau membandingkan diri dengan Ratna yang semalam lamaran dan habis lebaran nikah membuatku berpikir, "Senangnya jadi ratna, aku kapan mengalami masa itu. Lah tiap hari ketemu papan tulis terus, entah kapan ketemu jodoh." yang ada pemikiran seperti itu malah membuatku menjadi tidak semangat hidup. Toh, manusia sudah punya lajur masing-masing. Barangkali memang belum saatnya bertemu jodoh atau sudah bertemu tapi belum tahu kalau kamu jodohku. Ya, jadinya dinikmati saja. Mengingat lagi bagaimana senyum Lina Purwati saat berdiri di depan kelas dengan mata berbinar saat menjelaskan matematika, degup jantung yang menyenangkan saat menemui soal-soal yang menantang atau tertawa bersama teman di sela-sela bekerja. Mari bersyukur lebih banyak, Lina Purwati.
Terima kasih pelajaran berharganya, Ilham. Kadang aku pengen pinjem isi kepalamu buat tahu cara pandangmu tentang dunia, mimpi, masalah, cobaan, jodoh, atau apapun. Rasanya pemikiranmu yang luas itu, yang melihat dari banyak sisi itu seperti mengurai isi kepalaku yang ribet.
Salam cinta,
Lina Purwati yang masih berusaha memperjuangkan satu per satu mimpi.
Bener, Kak. Tiap orang punya rejeki masing-masing. Orang yang kita lihat berkilau mungkin melihat kita sebagai berlian, lho.
ReplyDeleteSetuju. Terus semangat, ya.
ReplyDelete