Ultah IMC Kedua Menyatukan Dua Hati
ULTAH IMC MENYATUKAN
HATI
Indonesia mathematic Club. Club
ini di buat oleh Kenang Indra Matena dan Laura Kanesia Primatika di karenakan
oleh kami berdua memiliki jiwa dalam belajar matematika, kami berdua adalah
pecinta matematika yang akan memberi warna pada dunia matematika agar kami
selalu sukses matematika.
Pati, 26 Desember 2010
Ttd
Kenang Indra Matena Laura
Kanesia Primatika
Ketua Wakil Ketua
“ Lah
kok lu jadi ketua tanpa persetujuan dari gue Nang?” Protes Laura setelah
membaca akte pendirian yang di buat oleh Kenang.
“ Gue jadi ketua bukan tanpa
alasan kali. Gue kan kakak kelas, Lo adik kelas. Jadi meminta atau tanpa
meminta persetujuan dari lo, gue akan tetap jadi ketua,” Jelas Kenang.
“ Pesan tersirat dari kalimat lo
barusan adalah lo udah tua hahahaha,” Ledek Laura.
“ udah deh gak usah ngeledek. Lu
juga muda setahun dari gue. Udah sekarang tiup lilinnya, jangan lupa make a
wish” Perintah Kenang.
Hari ini adalah tanggal 26
Desember 2010. Yang berarti adalah hari ulang tahun Kenang dan Laura. Mereka
lahir di tanggal yang sama namun dalam tahun yang berbeda. Dan pada hari ini
pula mereka mendirikan club yang beranggotakan mereka berdua.
“ Nang peraturan clubnya lucu
banget ya. Pertama, siapa yang memiliki nilai paling rendah harus mentraktir
bakso yang memiliki nilai paling tingi. Kedua, bagi yang memiliki materi baru
harus mengajarkan pada yang lain. Yang buat lo?” Tanya Laura.
“ Ya iya lah siapa lagi kalo
bukan gue, supaya nilai matematika lu gak jeblok. Lo kan paling ogah ntraktir
orang. Kalopun nilai matematika lu jeblok, gue juga untung bisa dapat traktiran
bakso dari lu,” Jelas Kenang.
“ Yeee. Nilai matematika gue gak
akan jeblok lagi kok. O ya Nang kok namanya Indonesia Mathematic Club sih?
Emang seluruh siswa di Indonesia boleh join?” Tanya Laura.
“ Tentu saja boleh. Dengan
senang hati gue menerima anggota-anggota baru,” Jawab Kenang sambil tersenyum.
“ Tapi kan waktu SD kita udah
janji kalo rumah pohon ini Cuma untuk kita berdua. Bahkan adik lo aja pengen ke
sini lo gak kasih ijin,”
“ Siapa bilang mereka ke sini?
Club ini sudah gue buat pagenya di facebook kok, jadi gak perlu mampir ke rumah
pohon kita,lo tahu gak apa di balik kata Indonesia?”
“ Negara kita lah, Emang apa
lagi?”
“ Gak salah tapi juga gak
benar,”
“ Lho kok bisa?” Tanya Laura
penasaran.
“ Bisa donk. Memang Indonesia
negara kita. Tapi pesan tersirat dari kata Indonesia pada club kita adalah
Indra dan Kanesia. Nama tengah kita, ngerti gak lu?”
“ Wuih keren. Pinter juga lo
buat nama club. Gak kalah deh sama club korea gue.” Kata Laura bangga.
“ Korea lagi korea lagi. sekali-kali
Indonesia kek. Kalo lo mikirnya korea mulu bisa-bisa nilai lo jeblok kaya
semester ini dan harus traktir gue bakso sepuas gue, “
“ Hah? Sepuas lu? Tekor gue,”
Kata Laura sambil menepuk jidatnya.
“ tekor-tekor itu kan resiko. O
ya ini kado dari gue,” Kata Kenang sambil menyerahkan sebuah kado kepada Laura.
“ wuih lebih besar daripada kado
yang tahun lalu lo kasih, gue buka ya Nang,” Laura merobek kertas kado yang
tadinya terbungkus sangat rapi.
“ Wuih kaos couple ni. Bisa-bisa
satu sekolah heboh ni. Laura Kanesia Primatika mendapat kaos couple dari sang
mantan ketua osis,” Laura menirukan gaya pembawa acara gosip.
“ Ya itu kan bukan mau gue. Tapi roda kado yang
gue puter. Lagipula itu bukan sepenuhnya kaos couple.” Kata Kenang dan kemudian Laura memperhatikan
kaos yang di berikan oleh Kenang.
“ Indonesia Mathematic Club?”
Tanya Laura bingung.
“ Itu kaos club. Keren kan.
Bagian depan Indonesia Mathematic Club. Bagian belakang IMC selalu di hati .
Terus di bawah sini juga ada namanya. Kenang. Nah ini punya gue.” Jelas Kenang
lalu memakai kaos tersebut.
“ Curang lo Nang, ini kado buat lo
dan gue gak curang kaya lo,” Laura menyerah kado.
“ Wuih beneran jam tangan.
Makasih Laura. Pakai dong kaosnya Ra. Biar kita sama-sama keren,”
“ Kita? Laura aja kali, hahaha”
Dan akhirnya mereka berdua pun tertawa bersama.
“ Laura,udah malam cepetan
pulang besok kamu telat lagi” teriak seseorang dari bawah.
“ Iya Mah,bentar” Jawab Laura. “
Nang gue pulang dulu ya, lo yang beresin ya? Kan tahun lalu gue yang beresin,
hehehe,” kata Laura yang langsung saja turun menghampiri Mamanya.
Pagi
hari.
“ Kenang, berangkat yuk,” Teriak
Laura di depan rumah Kenang.
“ Iya bentar,” Kenang muncul
dari rumah dan segera menghampiri Laura. Dalam perjalanan menuju sekolah mereka
bersundau gura sambil sesekali tawa mewarnai pagi mereka.
“ O ya Nang hari ini hasil
ulangan gue yang bab Statistika keluar loe,” Kata Laura.
“ Wuih keren, nilai matematika
gue udah keluar kemarin, ntar pulang sekolah kita adu nilai siapa yang paling
tinggi,” .
“ Oke. Siapa takut.”
Hari terlalui dengan begitu
cepat. Tanpa terasa bel pulang pun berbunyi dengan nyaringnya. Murid-murid
berhamburan menuju parkiran untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
“ Siap?” Tanya Kenang pada Laura
dan di balas anggukan olehnya.
“ Satu, dua, tiga,” pada
hitungan ketiga mereka berdua mengeluarkan kertas ulangan matematika. Dan
hasilnya.
“ Yeeee gue menang,” Kata Laura
sambil melompat-lompat.
“ Yah sayang banget Cuma beda
satu poin aja,gue gak mau traktir ah” Kata Kenang kecewa.
“ Peraturan Pertama, siapa yang
memiliki nilai paling rendah harus mentraktir bakso yang memiliki nilai paling
tingi dan peraturan tersebut yang membuat adalah bapak ketua Kenang Indra
Matena,” kata laura layaknya seorang hakim yang telah menitikberatkan kesalahan
pada terdakwa.
“ Iya iya, bawel lo.”
Di
warung bakso.
“ Alhamdulillah kenyang gue.
Kenapa gak dari dulu aja ya kita buat club,” Kata Laura.
“ kan baru sekarang lo gila sama
club, coba dari dulu lo gila club korea-korea gak jelas itu,pasti IMC udah 15
tahun sama kaya usia persahabatan kita” Kata Kenang.
“ Yeee, siapa bilang korea gak
jelas, korea itu jelas-jelas keren, gak dramanya, musiknya, budanya, keren
semua,” Laura membela diri.
“ Coba deh lo sebulan sekali
ikut gue nonton ketoprak atau wayang di desa sebelah. Pasti lo bakal bilang
kalo budaya Indonesia juga super duper keren,” Kenang pun tak ingin kalah dari
Laura.
“ Gue gak ngerti jalan ceritanya
Kenang,”
“ Bukannya lo gak ngerti tapi lo
gak suka. Coba kalo lo suka pasto ngerti-ngerti aja,”
Hari-hari mereka lalui bersama dalam tawa canda juga
sengsara dalam mempelajari matematika. Tak terasa hari berlalu begitu cepat.
Usia IMC hampir memasuki usia pertama. Seperti biasa, tiga hari sebelum hari H,
Kenang dan Laura mengadakan rapat apa saja yang mereka perlukan untuk
merayakannya.
“ Lo duluan deh Ra yang muter, gue pengen tahu kado apa
yang bakal gue dapat dari lo tahun ini hehehehe,” Perintah Kenang pada Laura.
Dan Laura langsung memutar roda hadiah yang ada di depannya. Menit demi menit
mereka sabar menunggu dengan harap-harap cemas jarum akan berhenti pada benda
apa. Dan jarum berhenti pada.....
“ Yah kok gue harus ngasih lo puisi sih, gak banget deh.
Padahal kan gue yang pengen puisi dari lo,nih giliran lo” Kata Laura kecewa.
Dan Kenang pun segera memutar roda tersebut.
“ Asyik bukunya Yohanes Surya. Kapan-kapan gue pinjem ya
Ra, hehehe”
Tibalah pada hari yang mereka tunggu. 26 Desember 2011.
Dengan hati-hati Laura membawa Kue ke rumah pohon. Di susul oleh Kenang yang
membawa kado untuk mereka berdua.
“ Wah gak terasa ya Ra, setahun sudah club ini berdiri. Dan
lo sedikit demi sedikit melupakan budaya korea. Dan senang nonton Wayang. Keren
kan Ra?”
“ ya Nang. Keren banget. Aku jadi tahu kalo wayang punya
cerita yang gak kalah
keren dari drama korea the
great quenn seondeok dan the moon that embraces the sun
“ Gimana
ni kesan-kesan selama gabung di club ini?”
“ Yang pasti
gue senang nilai matematika gue jadi lebih baik lagi berkat Pak Ketua. Terus
gue juga kenyang makan bakso pas pak Ketua nilainya anjlok hehehe, kalo lo?”
“ Gue juga
senang. Akhirnya sahabat gue gk gila club-club kora. Gak gila kaya dulu yang
teriak-teriak oppa oppa sarangahaeyo, dan pastinya gue punya waktu banya buat
terus sama lo,”
“ Yang
terakhir itu beneran senang atau terpaksa tu,”
“ Ya
beneran lah, ayo make a wish dulu,” dan keduanya pun memejamkan mata sambil
berdoa apa yang mereka inginkan menukarkan kado.
Malam pun
telah tiba. Sang matahari kini telah tenggelam dan tergantikan oleh rembulan
yang bersinar terang. Dengan perasaan campur aduk Kenang membaca puisi dari
Laura.
Matematika bukan hanya sebuah kata
Melainkan kehidupan yang memberikan sebuah nyawa
Layaknya sebuah angka yang selalu mengisi cerita
Diriku dan dirimu bagaikan dua angka yang sama namun berbeda tanda
Jika bersama akan terasa kosong serta hampa
Namun jika bertengkar memberikan sebuah angka yang sangat buruk
Serta jika berpisah akan mengalami sebuah kehancuran yang mendalam
Terimakasih untuk segalanya
“Kosong? Hampa? Apa aku tak pernah ada dalam
hatimu Laura? Negative? Apa aku hanya memberikan pengaruh negative untukmu? Baiklah
mulai sekarang aku akan menjauhimu agar kau selalu bernilai positif.” Ucap kenang dalam hati.
Mentari
telah menampakkan sinarnya. Kehangatannya tak mungkin dapat terelakkan.
Pagi-pagi sudah Kenang pergi ke sekolah. Entah apa yang telah menyerangnya
sampai tega tidak menunggu Laura untuk berangkat bersama.
“ Kenang
berangkat yuk,” Teriak Laura dan keluarlah seorang wanita anggun.
“ Eh
Laura, kenangnya sudah berangkat,” Kata Mama Kenang.
“ Lho kok
gak nungguin aku Tan?” Tanya Laura heran.
“ O ya
tadi kenang bilang kalo dia hari ini piket, jadi perlu berangkat pagi,”
“ ya udah
deh tante, Laura berangkat dulu ya.” Ucap Laura sambil mencium tangan Mama
Kenang.
Sampai di
sekolah. Laura mencari Kenang di kelasnya. “ Woi Nang. Lo kok ninggalin gue,
kayanya walaupun piket lo tetep nunggu gue,” Kata Laura kecewa.
“ Gue
sibuk, bentar lagi bel masuk mending lo cepetan ke kelas daripada telat,” Ucap
Kenang dingin.
“ Lo kok
aneh Nang……” Belum sempat Laura melanjutkan Ucapannya Kenang telah pergi
meninggalkannya.
Hari
berikutnya. Sama seperti hari-hari kemarin Kenang masih berangkat sendiri dan
tak mau berangkat bersama Laura. Hingga tiba saatnya hasil ulangan matematika
di umumkan.
“ Kenang,
siap untuk peraturan pertama?” Teriak Laura. Tanpa menunggu persetujuan dari
Kenang, Laura membuka kertas ulangan matematika milik Kenang.
“ Wah
nilai lo lebih tinggi dari gue Nang, ntar siang gue tunggu lo di parkiran ya,”
“ Gue gak
mood makan bakso, sana gi balik ke kelas lo. Ngapain sih adik kelas di sini,”
Ucap Kenang lalu pergi meninggalkan Laura. Laura masih bingung apa yang telah
terjadi pada Kenang.
Saat
pulang sekolah tiba, Laura menunggu Kenang di parkiran sekolah. Satu jam. Dua
jam. Tiga jam. Orang yang di tunggu tak kunjung datang. Bukan Laura namanya
kalau ia kenal kata menyerah. Terik matahari yang tadinya sangat panas kini
telah pergi melihat kegigihan Laura. Dan bulan pun menghampiri dan menemani
Laura dalam penantiannya.
Dalam
kelas Kenang memerhatikan Laura. Ia sangat ingin menghampirinya. Namun, ia
sadar kehadirannya malah membuat Laura semakin mendapat pengaruh negative
darinya.
To :
Faris
From :
085xxxxxxxxx
Laura ada adi parkiran sekolah. Kalo lo peduli
sama dia suruh dia pulang dan kalo bias ajak dia makan. Seharian dia belum
makan.
Hari berikutnya. Sikap Kenang
masih saja dingin terhadap Laura. Dan Laura masih saja bingung apa yang telah
terjadi. Dan tak terasa sikap tersebut telah berlangsung hampir satu tahun.
Keduanya tersiksa. Keduanya merana. Namaun apa boleh di kata. Satu tak beani
berkata, satu tak berani bertanya. dan mengangap semua baik-baik saja. Padahal
yang terjadi adalah sebaliknya.
“ Kenang tunggu,” Teriak Laura.
“ Lo gak capek apa ngejar-ngejar
gue tiap ahri?”
“ Sejak kecil gue gak pernah
capek kejar-kejaran sama lo, “
“ Kalo lo mau nostalgia bukan di
sini tempatnya, minggir gue mau lewat,”
“ Tunggu,”
“ Apa lagi?”
“ Gue nemu dompet lo di depan
rumah pohon,” Laura menyerahlan dompet milik Kenang. “ Dan gak sengaja gue
lihat foto-foto kita. Kenapa di balik foto ultah kemarin ada puisi dari gue?”
“ Bukan urusan lo, balikin
fotonya,” laura pun menyerahkan fotonya. Laura tak menyangka apa yang di
lakukan Kenang. Kenang merobek foto tersebut.
“ Gak ada lagi kata kita,
sekarang yang ada lo lo, gue gue,” Kata Kenang sambil membuang foto tersebut.
“ Lo tega Nang, kalo lo gak suka
sama puisi dari gue, lo tinggal bilang. Gue bisa ganti. Tapi gak perlu lo robek
foto kita dan belakangnya ada puisi dari gue,” tanpa sadar Laura meneteskan air
mata.
“ Cengeng,” Kemudian Kenang
pergi meninggalkan Laura.
Dalam hati Kenang merasa
bersalah telah membuat Laura menangis. Kalau dulu ia pasti akan membawa bakso
ke rumah Laura dan minta maaf. Namun, apa sekarang ia masih bisa melakukannya?
Sementara ia tahu bahwa jika bersama Laura, Laura merasa kosong dan hampa.
Tanpa sadar Kenang telah berada di rumah pohon. Ia sangat merindukan tempat
ini. Hampir satu tahun ia tak ke sini. Tak sengaja mata Kenang melihat kalender
dengan tanggal yang telah di lingkari dengan spidol merah yang bertuliskan “
rapat ultah kita” dan itu adalah hari ini. Sadar akan hal itu, tangan Kenang
menyentuh roda hadiah. Perlahan-lahan ia putar roda tersebut, jarum telah
berhenti, ia ambil kertas yang ada pada roda tersebut dan membukanya. “ Apa yang terjadi?” Kenang hanya
geleng kepala melihat tulisan tersebut. Kemudian memutar roda hadiah kembali. “ Apa salahku?” “ MAafkan aku” “Jangan lupa
datang pada hari ulang tahun kita” “Kenang Indra Matena adalah hadiah
terindah”.
“ Apa maksud dari semua ini? Aku
hadiah terindah? Sementara ia sendiri bilang bahwa bersamaku dia merasa kosong
dan hampa”.
26 Desember
2012.
“ Wah anak Mama hari ini ulang
tahun. Selamat ulang tahun ya saying,” Kata Mama Kenang sambil mencium kening
Kenang.
“ Makasih Ma,”
“ Ini pesanan kamu tahun lalu
baru aja datang,”
“ Cincin,”
“ Cincin? Sejak kapan aku pesan
cincin?” Tanya Kenang bingung.
“ Tahun lalu. Tahun lalu kan
kamu bilang mau lamar Laura, nah sekarang udah tiba waktunya, tapi dengan
syarat Laura harus nunggu selama lima tahun atau lebih “ Kata Mama kemudian
menyerahkan cincin kepada Kenang.
“ Ya udah deh Ma, aku berangkat dulu ya,” Ucap
Kenang sambil mencium tangan Mamanya.
Di sekolah.
“ wew mas bro, selamat ulang
tahun ya bro,” Kata Riko teman Kenang. Teman-teman lainnya pun juga ikut
memberi selamat pada Kenang.
“ Wuih apaan ni? Cincin bro,
apaan ni KL?” Tanya Riko penasaran.
“ Bukan apa-apa,” Jawab Kenang
lesu.
“ Biar gue tebak, KL, kecelakaan
lalu lintas ya?hahaha” tebak Toni dan di ikuti suara tawa yang lain.
“
Lo bener Ton KL itu kecelakaan lalu lintas. Gue emang lagi mengalami kecelakaan
lalu lintas dalam persahabatan. Gue kecelakaan hingga akhirnya gue jatuh cinta
sama sahabat gue. Dan kecelakaan itu tambah parah saat gue tahu kalo dia gak
pernah anggap gue ada dalam hatinya,” Kata Kenang dalam hati.
“ Ah lo Ton ada-ada aja. Gue
tahu ini cincin buat lamar cewek kan? Kalo lo emang benar cinta sama tu cewek, lamar
aja. Jangan sampe lo nyesel pas dia udah sama yang lain. Jangan takut lo di
bilang pengecut kalau di tolak. karena pengecut itu adalah orang yang gak
pernah mau nyoba padahal kesempatan ada di depan mata,” Kata Riko.
“ Wah tumben kata-kata lo
bijaksana banget Ko,” Ledek Toni.
Malam telah tiba. Kini Laura
telah menungu Kenang di rumah pohon seperti biasa. Di sisi lain, Kenang masih
sangat ragu untuk menghampiri Laura. Ia takut jecewa. Ia takut terluka.
“ Lo Kenang kok masih di sini,
sana kasihan Laura sudah nunggu dari habis isya tadi,” Kata Mama Kenang.
“ Gimana kalo aku di tolak Ma?”
“ Kok kamu bilang gitu?” Kenang
menyerahkan puisi dari Laura.
“ Jadi kamu marahan sama Laura
selama satu tahun Cuma gara-gara selembar kertas ini?” Kenang mengangguk.
“ Dia bilang di merasa kosong
saat bersamaku,” Jelas Kenang.
“ Mama yakin maksud Laura tak
seperti itu, lebih baik kau temui dia. Minta penjelasan padanya,”
Dengan ragu Kenang pergi ke
rumah pohon. Dengan setelan jas hitam yang sempurna bunga mawar merah yang
indah ia pergi menjemput cintanya.
“ Kenang akhirnya lo datang
juga, gue mnya maaf kalo selama ini gue ada salah sama lo. Apa yang
sebenarnya…..” Belum selesai Laura menyelesaikan kalimatnya, Kenang telah
berjongkok sambil memberikan bunga mawar merah yang berarti cinta yang merekah.
Tanpa ragu Laura mengambil bunga tersebut. Kemudian, Kenang mengeluarkan Cincin
dari sakunya.
“ Laura Kanesia Primatika, bersediakah
kamu menjadi calon istriku dan menungguku selama lima tahun atau lebih ?” Pinta Kenang dan di
jawab dengan anggukan oleh Laura.
“ Berapa lamapun aku akan tetam
menunggu,” Kemudian Kenang memakaikan cincin di tangan Laura, begitu pula
sebaliknya.
“ Apa kamu mengerjaiku selama
satu tahun hanya untuk ini?” Tanya Laura hati-hati.
“ Bukan,” Kenang menyerahkan
selembar kertas kepada Laura.
“ Kamu gak suka puisiku? Kenapa
gak bilang dari dulu? Kenapa lebih milih mendiamkanku selama satu tahun?”
“
Kamu tahu hatiku hancur berkeping-keping saat membaca puisi darimu. Diriku dan dirimu bagaikan dua angka yang
sama namun berbeda tanda. Jika bersama akan terasa kosong serta hampa.aku
sadar saat iu aku hanya membawa pengaruh buruk bagimu. Kau bilangan positif,
aku bilangan negative. Aku tak pantas berada di dekatmu,”
“
Kau salah besar. Bilangan negative itu aku. Sebelum IMC terbentuk aku sangat
gila terhadap korea. Nilaiku turun. Jadwalku amburadul. Tapi saat IMC
terbentuk, nilaiku kembali normal. Kaulah bilangan positif itu. Saat bersamamu
aku memang merasa kosong karena diriku ingin terpenuhi dengan materi-materi
baru yang kau pelajari. Jika kita bertengkar memang benar memberikan dampak
buruk. Dan saat berpisah satu akan jatuh. dan hal itu benar-benar terbukti
selama setahun ini,”
“
Apa itu benar?” Tanya Kenang tak percaya pada apa yang telah di ucapkan oleh
Laura.
“
Tentu saja benar. Apa kamu melihat kebohongan terpancar dari mataku? “
“Aku
percaya kok sama kamu ibu wakil Ketua Laura Kanesia Primatika. Ya udah apa
kesan-kesan kamu di hari ultah IMC yang kedua?”
“
Sedih karena Pak Ketua bersikap dingin pada Bu Wakil tapi dari sana aku belajar
matematika dengan mandiri di page IMC bersama sobat IMC, kalo kamu?”
“
Tersiksa lahir batin karena terpisah satu tahun dari Ibu Wakil tapi tak apa
itung-itung latihan jauh dari kamu, “
“
Latihan jauh?” Tanya Laura bingung.
“
Tahun depan aku udah kuliah otomatis jauh dari kamu. Pulang satu bulan sekali
atau bahkan satu tahun sekali. Kamu kan sudah janji mau nunggu aku kan selama
lima tahun atau lebih?”
“
Berapa lamapun aku akan nunggu kok tapi kenapa lima tahun? Bukannya program
sarjana empat tahun?”
“
Lima tahun bukan tanpa alasan, empat tahun kuliah, satu tahun atau lebih kerja
untuk modal nikah, hehehe”
“
Wah Bapak Ketua pinter sekali ya,”
“
Ya donk, Kenang. Ayo kita tiup lilin. Jangan lupa make a wish,” mereka berdua
pun menutup mata dan berdoa.
“
Kenapa kamu malah lamar aku Nang? Bukannya usia-usia kita pacaran?”
“
Untuk apa kita pacaran? Untuk menyakiti satu sama lain? Untuk membuat galau
satu sama lain? Membuat sakit hati satu sama lain? Lagipula tujuan pacaran
akhir-akhirnya kan nikah, ya lebih baik tunangan saja yang di ketahui orangtua
dan pastinya akan membuatmu lebih bahagia. “
“
Wah bijaksana bener. O ya Nang pas kita ntar nikah terus punya anak nama
keluarganya matena atau primatika?”
“
Ya Matena kan ikut marga laki-laki,”
“
Gimana kalo nama marganya Matematika, kamu tahu arti dari kata matematika?”
“
Pelajaran favorit kita,’
“
Nggak salah juga gak benar. Matematika itu singkatan dati Matena dan Primatika,
hehehe” Kata Laura sambil tertawa.
“ Wah sekarang Laura pintar buat nama ya,”
Setelah
malam ultah IMC yang kedua, mereka menjalani long distance relationship dan
berjanji akan bersama saat keduanya telah siap mengikrarkan janji suci.
Cerpen ini adalah cerpenku yang pertama kali dibaca sama orang lain. Cerpen pertama yang mendapat apresiasi sebagai 'cerpen terbaik' oleh Indonesia Mathematic Club. Memang, bukan sebuah lembaga literasi, IMC adalah sebuah fanpage yang diisi oleh semua orang yang suka matematika. Aku sudah like dan akrab sama mereka sejak Januari 2010, awal semester dua kelas X setelah ketemu adminnya di sebuah lomba. Banyak banget yang aku pelajari dari sana. Tapi, sayang sejak dua tahun yang lalu mulai jarang main ke IMC karena adminnya pada sibuk kuliah, gak ada lagi gaje-gajean. Terimakasih buat IMC yang sudah memberiku semangat untuk menulis.
Comments
Post a Comment