Gagal SBMPTN? Bukan akhir segalanya, kok!
Maaf, Anda dinyatakan tidak diterima SBMPTN 2013.
Bagaimana perasaanmu
saat membaca sebaris kalimat itu? sedih? Sakit? Hancur? Kecewa? Kalau kamu
tanya aku, gimana rasanya, itu rasanya sakit banget. Lebih sakit dari terjun ke
sumur dua meter (Emang pernah?). Tapi anehnya, setelah baca aku nggak nangis.
Justru, tersenyum. Mungkin, memang belum rejeki. Tapi air mataku tumpah
seketika pas emak tanya hasilnya. Aku tahu apa itu sedih sesedih-sedihnya,
lihat kekecewaan di mata emak.
Aku cuma bisa menangis
saat itu. betapa bodohnya aku! Marah? Pasti. Tapi anehnya lagi, orangtua nggak
marah. Malah, mereka ngasih motivasi. Bilang nggak apa-apa, masih bisa coba
lagi tahun depan. Dan mereka nggak cuma ngasih motivasi tapi juga biaya.
Setelah gagal SNMPTN
2013 dan SBMPTN 2013, coba lagi di SPMU. Hasilnya? Gagal lagi. Sedih? Banget!
Sampai-sampai nggak nafsu makan. Bayangin aja, teman satu sekolah yang rangking
paralelnya dua dari bawah bisa lolos SBMPTN. Aku? yang susah payah belajar dari
yang awalnya nggak masuk sepuluh besar bisa rangking satu di semester akhir nggak lolos tiga ujian.
Nggak adil!
Kecewa itu pasti. Malah,
aku diingat lagi, aku galau selama sebulan. Abis lebaran, setelah dapat
pencerahan dari mbak sis dan mas sugi, baru bisa move on. Tapi, ya masa mau galau terus? Apa kata gebetan kamu? Eh apa kata dunia?
Kalau dipikir-pikir, setahun itu singkat lho. Meski singkat, banyak pelajaran yang aku dapat setelah gagal kuliah tahun lalu. Apa itu?
1. Lebih bisa menghargai uang
Dulu, pas masih sekolah, pengen beli ini, pengen beli itu, ya udah beli aja, nggak perlu mikir dulu butuh apa nggak. Tapi setelah kerja dan tahu betapa susahnya cari uang, jadi nggak sembarangan gunain uang. Bukan berarti pelit ya, tapi hemat. Kalau pelit kan bikin perut melilit, kalau hemat itu terasa nikmat.
Bahkan uang seribu yang dulunya buat beli permen, sekarang lebih dihargai. Kalau sekarang uang seribu itu dapat 0,5 ons ikan tombro atau nila atau 1 ons pindang (satu ekor pindang yang sekeranjang dua ekor) yang berarti kalau digoreng atau dibotok jadi sepotong bisa buat lauk sekali makan. Perhitungan? Nggak lah, ini namanya manajemen uang. Pelit, jangan sampai. Masa hidup sekali mau pelit. Kan apa yang kita beri itu yang kita dapat. Makanya, tiap hari aku ngasih cinta ke kamu biar aku juga dapat cinta dari kamu. Eh...salah fokus.
2. Belajar Masak
Sebelum gagal SBMPTN, aku cuma bisa goreng telur, tempe sama bikin mie instan. Tapi, setelah gagal SBMPTN, aku belajar banyak banget dari emak, makpi, mbah, lekni, lek latri, mbak sis, mbakyan, mbak mid dan siapa saja yang bisa ditanyai. Mulai dari bikin sayur kunci, sayur santan bumbu kuning, telur bacem, opor ayam, nasi goreng, sayur bening, sop, botok, banyak deh. Memang sih belum seenak yang dibikin orang-orang karena masih belajar. Tapi dapat respon baik kok dari keluarga. Kan, bisa karena terbiasa. Tapi kamu nggak perlu khawatir, aku tetap belajar mencintai kamu kok sebelum dan sesudah gagal SBMPTN. Hala...apa sih.
3. Belajar Nulis
Setahun ini, belajar nulis yang benar-benar 'nulis'. Ikut kelas di kobimo, ikut #kampusfiksi roadshow, googling cara nulis yang baik, dan masih banyak lagi. Enaknya, tahun ini bisa berteman sama penulis-penulis novel. Bisa belajar gitu dari ahlinya. Ketemu sama Pak Edi (CEO Diva Press), editor kece kayak mbak Rina Lubis, mas Acong dari marketing yang kataya temannya bang Raditya Dika, banyak deh.
Gini-gini juga kan, aku masih punya mimpi, paling nggak punya satu novel yang bisa berguna untuk orang lain. Pernah sih nulis dua novel. Terbit? kagak. Ditolak penerbit, baru iya. Nggak tanggung-tanggung, tiga penerbit mayor lho yang nolak. Nyerah? Belum waktunya. JK Rowling aja ditolak 20 penerbit pas ngirim Harry Potter. Kalau JK Rowling nyerah mana mungkin aku berkhayal bisa nikah sama kamu...eh berkhayal bisa terbang pakai sapu.
Sedikit cerita boleh ya? Novel yang pertama itu tentang cinta-cintaan gitu deh. Sumpah, itu novel ancur banget. Mulai dari ide cerita yang pasaran, teknik bercerita yang nggak menarik, deskripsi yang kurang, klimaksnya nggak ada, konfliknya kurang kuat, apalagi ya, banyak deh kurangnya. Nah, novel yang kedua ini, aku suka sama pesan moral, tentang jangan pernah menyerah. Tapi sayang, balik lagi ke teknik nulis yang membosankan. Kabar baiknya, aku mau nulis ulang novel ini. Mau aku praktekkan ilmu nulis yang aku dapat. Kalau terbit? ya, alhamdulilah. Kalau ditolak lagi? Ya udah revisi aja lagi, terus kirim lagi deh. Hidup jangan dibuat susah. Kamu aja ditolak dia mulu masih sms dia atau malah berubah jadi 'stalker'nya hehehe.
Makanya, setahun ini, aku sering beli novel. Tapi mulai bulan Januari, nggak lagi beli. Selain, gajiku udah abis juga karena mau fokus ujian. Banyak sih yang bilang gini, "Katanya ngirit, tapi kok beli novel?" Kan aku nggak irit tapi hemat. Kan, aku butuh novel bukan pengen novel. Kan, aku mau jadi penulis novel berarti harus punya novel untuk dibaca lalu dipelajari. Iya, jadi penulis juga harus belajar. Setelah baca novel, aku belajar mengolah plot, memperkaya diksi, dianalisis bagaimana biar ceritanya hidup, banyak deh.
4. Ikut BPUN
Ini salah satu berkah pasca gagal SBMPTN. BPUN, bagiku itu kayak dapat keluarga baru. Aku banyak belajar arti hidup di sini. Tentang bagaimana indahnya berbagi. Pernah, beberapa minggu yang lalu kita ngadain buber. Tahu nggak lauk pauknya apa? Hampir semuanya nggak ada yang beli. Bandeng dari Ahya Arif, rolado entah dari siapa, trasi, tempe, bakwan, sampai takjilnya nggak ada yang beli.
Bukan itu saja, kita juga berbagi tawa juga sedih. Pernah lho, satu asrama itu nangisnya gantian. Kalau aku dulu nangisnya karena divonis penyakit apa gitu, lupa namanya karena nggak penting. Intinya itu, aku nggak bakal bisa gemuk. Senang? Nggak lah. Karena kabar buruknya, beberapa tahun ke depan aku bisa kena kanker. Alasan kenapa aku nggak bisa gemuk itu, ususku nggak bisa nyerap makanan karena ada kayak lapisan karet gitu. Penyebabnya karena terlalu banyak makan makanan yang terlalu banyak mengandung penyedap rasa.
Yang aku takutin saat itu cuma satu kalau aku nanti pergi belum bisa apa-apa. Kabar baiknya, aku selalu sadar kalau cepat atau lambat aku bakal pergi. Entah karena alasannya apa. Yang penting, nanti itu aku maunya pergi setelah bisa buat hidup orang lain berguna. Mungkin setelah kamu bisa merasakan cintaku...helah apa lagi...salah fokus.
5. Tujuan Hidup
Ini yang paling penting. Setelah perenungan panjang, akhirnya aku menemukan tujuan hidupku. Apa itu? aku ingin hidupku berguna untuk orang lain, kalaupun tak bisa berguna, jangan pernah merepotkan orang lain. Terdengar klise, tapi setelah kita terjatuh di titik paling bawah hidup, pasti bakal menemukan banyak hal yang sama sekali tidak pernah kita duga. Bis aja punya tujuan, masa hubungan kamu sama dia nggak punya...ups..hidup kamu nggak punya.
Masih banyak sih sebenarnya, tapi takutnya kamu bosan bacanya. Yang penting, aku bisa menemukan apa itu belajar sesungguhnya. Belajar itu bisa di mana saja. Nggak melulu tentang pelajaran di sekolah, tapi tentang apa itu hidup, mau dikemanain hidup kita, buat apa, buat apa, buat siapa. Apa saja bisa yang kita mau, bisa kita pelajari, nggak peduli kamu anak ipa atau ips, jurusan teknik atau pendidikan, apapun itu, pelajari, selagi masih muda, selagi masih punya tenaga.
Dan, setelah itu juga, aku sadar, Allah itu adil. Adil banget! coba, kalau tahun lalu aku udah kuliah, aku belum tentu yakin bisa dapat pelajaran yang sangat berharga. Kenapa temanku itu bisa lolos SBMPTN? Karena setelah dikasih tahu, dia itu belajar dengan sangat keras dan disiplin di semester akhir. Nggak kayak aku tahun lalu, mau sukses tapi malah nongkrongin fb. Tapi tahun ini ngak kok, mau beneran serius. Hidup kan cuma sekali.
Dan, setelah itu juga, aku sadar, Allah itu adil. Adil banget! coba, kalau tahun lalu aku udah kuliah, aku belum tentu yakin bisa dapat pelajaran yang sangat berharga. Kenapa temanku itu bisa lolos SBMPTN? Karena setelah dikasih tahu, dia itu belajar dengan sangat keras dan disiplin di semester akhir. Nggak kayak aku tahun lalu, mau sukses tapi malah nongkrongin fb. Tapi tahun ini ngak kok, mau beneran serius. Hidup kan cuma sekali.
Buat kamu yang masih malas belajar dan belum semangat menjadi hidup, coba deh yang suka baca novel baca novelnya Elisa S judulnya Penghuni Hati. Intinya itu tentang makna belajar dan melihat hidup dari sudut yang berbeda. Kapan-kapan aku post reviewnya. Buat kamu yang malas baca dan lebih suka nonton anime, coba deh nonton Angel Beats. Inti ceritanya tentang para remaja yang belum puas menikmati masa remaja dan dikasih kesempatan untuk menuntaskannya di salah satu dimensi. Dari anime itu, aku belajar untuk melakukan apapun sebaik mungkin. Selamat Belajar.
Lina Purwati, Pemimpi yang belajar memimpin hidupnya sediri.
Setuju banget dengan postingan ini. Bahwa sejatinya pasti ada jalan di tengah cobaan. Sukses Pu ...
ReplyDelete