Posts

Showing posts from 2015

Mari Melangkah Bersama BPUN

Image
Bagiku, BPUN itu seperti keluarga. Ya, keluarga yang siap mengantarkan anak-anaknya ke gerbang perguruan tinggi. Tentu saja, sebelum kuliah, keluarga selalu mempersiapkan banyak hal sebelumnya. Dari mulai materi hingga pelatihan mental. Sekarang kami di sini. Di sebuah perguruan tinggi, sedang menimba ilmu untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik. Dan kamu tahu, BPUN juga ikut ambil bagian dari apa yang sekarang saya rasakan. Kamu juga bisa kok bergabung bersama keluarga bernama BPUN. Pertama, untuk tahu apa itu BPUN, kamu bisa baca-baca di bpunpati.blogspot.com atau baca pengalamanku *promote on hehe. Setelah itu, ikutin deh prosedurnya supaya bisa gabung. Kalau di kotamu nggak ada BPUN kamu bisa ikut di kota terdekat. Tenang saja, semuanya gratis. Setahuku, prosedur untuk bisa gabung mudah dan cepat. Pertama, kamu ikutin seleksinya. Semacam try out SBMPTN. Biasanya diadakan bulan Februari atau Maret. Sekitaran itu. terus tunggu deh informasinya. Kalau kamu p...

Kakao untuk Kayla

Mata Dyko tertancap pada gadis berkuncir ekor kuda. Segera, Dyko melepas handuk lalu memakai seragam putih abu-abu. Tangannya meraih jel dan merapikan rambut keriwilnya yang hampir menyentuh telinga. Dyko kembali berkaca, merapikan kerah dan ujung seragam. Dyko baru keluar kamar setelah menyemprotkan parfum. Langkah Dyko berhenti di dapur. Tak sempat sarapan, sudah pukul enam empat puluh. Dyko hanya mengambil kunci motor di atas kulkas. Senyum simpul terukir di wajahnya. Gadis di terasnya pasti akan tercengang. “Dyko!” Kayla kembali berteriak, “lama banget sih!” Dyko tak mengindahkan teriakan Kayla. Malah asyik mengelap motor barunya. “Dyko!” Alis Kayla terangkat melihat Dyko keluar tanpa sepeda gunung yang biasa mereka gunakan. Sudah berganti Ninja merah keluaran terbaru. “Keren kan, Kay?” pamer Dyko dengan senyum sok ganteng. Menampakkan lesung pipit di wajahnya. Kayla berkacak pinggang lalu pergi meninggalkan rumah Dyko. Dyko hanya menggaruk kepala...

Yang Terpendam

Sepasang mata itu tampak berbeda dari yang lain. Tidak berbinar seperti semua orang di kapal Bahari Express. “Lagi ada masalah?” ujarku membuka percakapan. Dia tak menjawab. Wajahnya kusut. Seolah tak pernah bahagia. Hei, apa yang kurang dalam hidupnya? Usahanya di bidang kuliner sedang bagus-bagusnya dan memiliki pacar yang sempurna. “Tidak ada,” ujarnya datar lalu berjalan menuju geladak utama. Rambut sepinggangnya menari-nari disapa bayu. Dia memejamkan mata lalu merentangkan kedua tangannya. “Apa kau bertengkar dengan Bara?” Lagi-lagi dia memilih bungkam. Aku   memilih berdiri di sampingnya, yang tanpa sadar meraih tubuhnya dan merengkuhnya dalam pelukku. “Luapkan saja,” ujarku saat menangkap genangan di sudut matanya. *** “Apa angin bisa menerbangkan luka?” tanyaku setelah bendungan di mataku pecah. Lagi-lagi aku menangis di pundaknya. “Aku belum tahu,” ujar lelaki di sampingku. Dia melepaskan pelukannya lalu memegang pundakku dan menatapku, dalam. “Tapi...