Yang Terpendam
Sepasang mata itu tampak berbeda dari yang lain. Tidak berbinar seperti semua orang di kapal Bahari Express. “Lagi ada masalah?” ujarku membuka percakapan. Dia tak menjawab. Wajahnya kusut. Seolah tak pernah bahagia. Hei, apa yang kurang dalam hidupnya? Usahanya di bidang kuliner sedang bagus-bagusnya dan memiliki pacar yang sempurna. “Tidak ada,” ujarnya datar lalu berjalan menuju geladak utama. Rambut sepinggangnya menari-nari disapa bayu. Dia memejamkan mata lalu merentangkan kedua tangannya. “Apa kau bertengkar dengan Bara?” Lagi-lagi dia memilih bungkam. Aku memilih berdiri di sampingnya, yang tanpa sadar meraih tubuhnya dan merengkuhnya dalam pelukku. “Luapkan saja,” ujarku saat menangkap genangan di sudut matanya. *** “Apa angin bisa menerbangkan luka?” tanyaku setelah bendungan di mataku pecah. Lagi-lagi aku menangis di pundaknya. “Aku belum tahu,” ujar lelaki di sampingku. Dia melepaskan pelukannya lalu memegang pundakku dan menatapku, dalam. “Tapi...